Sustainable Development Goals

Standar

Sustainable development goals (SDGs) didefinisikan sebagai kemampuan yang berkelanjutan untuk berkembang dalam memenuhi kebetuhan (Kates RW et al, 2005). Millenium development goals (MDGs) yang diadopsi pada tahun 2000, tidaak secara signifikan mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Mei 2013 tiga kepala negara bertemu dan membentuk global tematik konsultasi, termasuk kesehatan, untuk lebih dari 80 negara. Negara-negara yang tegabung dalam SDGs berkomitmen untuk merubah agenda dalam pengembangan negara, terutama dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang menjadi determinan kesehatan (Buse dan Hawkes, 2015).

SDGs memiliki ambisius yang lebih pada kesehatan, baik tujuan dan target yang dituju dari pada MDGs. Tujuan utama dari SDGs adalah pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial, dan perlindungan lingkungan (Tangcharoensathien et al, 2015). Jika tujuan SDGs tidak tercapai maka manusia tidak bisa berkembang lagi karena jumlah yang menurun dan kesakitan,  berbagai kondisi sosial ekonomi juga tidak mampu berkembang. Tujuan SDGs berhubungan dengan tujuan kesehatan masyarakat. SDGs bertujuan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan yang dapat dilakukan dengan praktik-praktik pencegahan penyakit dan menyehatkan lingkungan sesuai dengan tujuan dari kesehatan masyarakat (Editorials, 2003).

Indikator, nilai-nilai, dan praktek yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan SDGs antara lain dengan mengintegrasikan sistem sosial-ekologi dan pendidikan yang memadai mengenai kesehatan; proses yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan dapat mencapai semua, baik biofisik, sosial dan politik; panduan untuk mengevaluasi dan mengatur implementasi tujuan SDGs (Norstorm et al, 2014). Nilai-nilai yang digunakan untuk mencapai tujuan SDGs disesuaikan dengan kondisi masing-masing ditiaap negara, dan dilakukan oleh penduduk di negara tersebut. Selain itu, para investor swasta diharapkan dapat menginvestasi sejumlah dana yang dapat digunakan untuk menjalankan program SDGs (UNCTAD, 2014).

Epidemiologi nutrisi adalah studi yang dilakukan untuk mengetahui determinan faktor yang berhubungan dengan nutrisi yang dapat mempengaruhi kesehatan. Tujuan ketiga dari SDGs adalah meyakinkan adanya hidup sehat dan promosi kesejahteraan pada semua usia. Permasalahan nutrisi berkontribusi pada terjadinya NCD yang menyebabkan kematian. Program MDGs mengesampingkan NCD karena penyakit yang diderita tidak disebabkan oleh virus. Menurunkan kematian yang disebabkan non communicable diseases (NCD) dengan perbaikan nutrisi merupakan salah satu tujuan dari SDGs (Hawkes and Popkin, 2015). Untuk itu, perlu dilakukan studi nutrisi untuk mengetahui permasalahan nutrissi di masyarakat yang dapat menyebabkan NCD dan kematian, sehingga menghambat penccapaian tujuan SDGs.

Epidemiologi lingkungan adalah studi yang mempelajari keadaan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan. Tujuan keenam dari SDGs adalah untuk meyakinkan tersedianya air dan sanitasi yang berkelanjutan. Epidemiologi lingkungan dalam hal ini berperan dalam studi deskriptif dan analisis lingkungan, menghasilkan data observasi, dan konsentrasi pada popilasi yang dibutuhkan guna mencapai tujuan SDGs (Jones and Barlett, 2010).

Epidemiologi penyakit kronik menekankan pada faktor langsung dan tidak langsung yang menyebabkan penyakit atau kesakitaan kronik (Kuller, 1987). Epidemiologi penyakit infeksi menekankan pada pengawasan lingkungan geoggrafis atau teemporal yang dapat menyebabkan infeksi (Kuller, 1987). Kedua epidemiologi ini berkontrribusi pada penciptaan pengumpulan data-data yang berhubungaan dengan penyakit kronik dan infeksi yang menyebabkan kematian dan kesakitan. Program SDGs dapat menggunakan data-data tersebut untuk mencapai tujuan meyakinkan adanya hidup sehat dan promosi kesejahteraan pada seluruh lapisan usia (Tangcharoensathien et al, 2015).

Epidemiologi sosial berfokus pada efek dari faktor-faktor struktur sosial yang berpengaruh pada kesehatan dasar (Honjo K, 2004). Salah satu tujuan SDGs adalah penyetaraan gender pada wanita dan anak perempuan, terutama pada kualitas dan kemampuan/tenaga. Adanya epidemiologi sosial diperoleh budaya sosial di masyarakat yang membeda-bedakan sesuatu berdasarkan gender, sehingga tidak sedikit wanita dan anak perempuan yang kurang sejahtera hidupnya.

Epidemiologi perilaku adalah identifikasi perilaku-perilaku yang berhubungan dengan penyakit. Perilaku yang diidentifikaasi lebih berfokus sebagai perilaku penyebab terjadinya penyakit (Editorial, 1985).  Studi epidemiologi berfungsi ssama dengan epidemiologi yang lain, yaitu diganakan data-data observasi yang dikumpulkan untuk mencapai tujuan dari SDGs dengan merancang tindakan untuk meminimalkan hambatan.

Epidemiologi ekologi adalah studi epidemiologi yang berfokus pada faktor-faktor degterminan dari ekologi yang dapat mempengaruhi kesehatan (Susser dan Susser, 1996). Studi epidemiologi ini lebih berfokus pada faktor-faktor biologi yang terdapat di ekologi, seperti nyamuk, lalat, atau organisme lainnya. Target SDGs untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular dapat berpedoman pada data yang dikumpulkan oleh epidemiologi ekologi ini.

Epidemiologi gaya hidup merupakan studi yang paling sering dilakukan. Studi ini berfokus pada data gaya hidup yang dijalani dan hubungaannya dengan kesehatan (Shlomo dan Kuh, 2002). SDGs bertujuan untuk mengakhiri kelaparan, menerima makanan yang aman dan meningkatkan nutrisi. Berbagai faktor yang berpengaruh pada kesehatan harus diminimalkan, termasuk gaya hidup berbahaya seperti makan makanan iinstan, merokok, minum alkohol, dan tidak olah raga bertolak belakang ddengan tujuan SDGs. Gaya hidup seperti itu membahayakan kesehatan dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit non virus (dikenal dengaan nama non communicable disease) yang bisa berakhir pada kematian.

Pendekatan yang dilakukan dalam program SDGs sudah dapat untuk mencegah dan mengatasi penyakit infeksi dan kronik karena pendekatan yang dilakukan tidak lagi menggunakan daftar penyakit secara spesifik seperti pada program MDGs. Dengan demikian, segala bentuk infeksi dan penyakit kronik yang menyumbang kesakitan dan kematian mendapatkan perhatian dari penyelenggara dan pelaksanan program SDGs (Hotez dan Herrick, 2015)

Usaha pencapaian tujuan SDGs dilakukan oleh semua pihak, dari tingkat nasional sampai daerah berperan dalam pencapaian tujuan. Belajar dari keberhasilan Indonesia dalam pencapaian tujuan MDGs, maka institusi nasional berperan dalam melakukan kerjasama dengan pihak-pihak swasta untuk mendapatkan dukungan yang lebih besar melalui investasi, pemerintah daerah juga turut berperan dalam mengimplementasikan program SDGs dan mengawasi pelaksanaannya (Ida L, 2014).

Epidemiologi Sosial

Standar
  1. Pengertian epidemiologi sosial

Epidemiologi sosial merupakan sub-ilmu dari epidemiologi yang lebih fokus mempelajari distribusi kesehatan, penyakit, dan kesejahteraan serta determinan sosial suatu kelompok masyarakat. Epidemiologi sosial lebih condong pada survei faktor-faktor determinan sosial yang mempengaruhi kesehatan dari pada pengobatan penyakit yang ditimbulkan oleh determinan tersebut (Krieger, 2001).

Epidemiologi sosial sebagai cabang dari epidemiologi yang fokus pada pencegahan dengan mengetahui faktor-faktor determinan sosial kesehatan pada suatu populasi.

  1. Konsep epidemiologi sosial

Aspek penting dalam epidemiologi sosial adalah kesehatan tiap individu dengan karakteristik yang sama, namun berbeda lingkungan tempat tinggal, budaya, ekonomi, politik dan keadaan geografik menyebabkan perbedaan  statusnya. Mempelajari konsep sosial epidemiologi memberikan kontribusi yang berguna bagi pelayanan kesehatan (Merlo et al, 2005).

Indikator perbedaan lingkungan tempat tinggal dan geografi memiliki dampak pada akses ke layanan kesehatan yang memadai. Budaya yang berkembang dalam populasi juga sebagai faktor determinan kesehatan apabila dalam budaya-budaya tersebut tidak memperdulikan aspek-aspek kesehatan, seperti pembatasan akses ke layanan kesehatan karena gender. Kondisi ekonomi diketahui sebagai faktor dominan dalam mencapai fasilitas kesehatan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Keadaan politik menjadi faktor determinan sosial kesehatan. Keadaan politik yang stabil maka pemerrintah dan pemegang kekuasaan yang lain akan fokus pada kesejahteraan penduduk, kesehatan, dan pendidikannya. Adapun kebijakan-kebijakan yang dibuat mendukung program-program kesehatan sehingga mampu meningkatkan status kesehatan dan kesejahteraan penduduk miskin dalam mencapai pelayanan kesehatan berkualitas.

  1. Artikel penelitian epidemiologi sosial

Sosial epidemiologi digunakan untuk memahami bagaimana faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik, yang dikenal sebagai determinan sosial, berpengaruh pada kesehatan dan penyakit di populasi.

Gary-Webb, at al (2014) melakukan penelitan yang fokus pada determinan sosial diabetes pada level faktor individu, seperti perilaku kesehatan, status sosial ekonomi, dan depresi. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian untuk bisa memahami penyakit secara keseluruhan adalah:

  1. Pendekatan gaya hidup yang menguji pengaruh paparan awal pada perkembangan diabetes,
  2. Memahami mekanisme biologi dari sosial determinan diabetes,
  3. Implementasi intervensi pada berbagai level.

Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa level sosial individu, seperti aktifitas fisik, diet, dan merokok menjadi faktor resiko tinggi dalam perkembangan diabetes. Faktor level individu tersebut dipengaruhi juga oleh level sosial yang lebih tinggi, yaitu faktor sosial, status sosial ekonomi, serta budaya dan psikososial. Epidemiologi sosial dalam penelitian tersebut terbukti menjadi faktor determinan sosial yang meningkatkan resiko terkena diabetes.

Penelitian epidemiologi sosial yang lain dilakukan oleh Knesebeck (2015) mengenai konsep epidemiologi sosial dalam penelitian pelayanan kesehatan. Knesebeck dalam penelitiannya mengemukakan bahwa faktor sosial tidak hanya berpengaruh pada kesehatan, tetapi juga berefek pada pelayanan kesehatan.  Kondisi sosial yang kurang, seperti pendidikan dan pendapatan atau sosial ekonomi, berpengaruh pada kemampuan individu untuk mengakses pelayanan kesehatan dan mendapatkan pelayanan yang berkualitas.

Hasil penelitian Knesebeck mengenai pelayanan berkualitas dipengaruhi oleh faktor tidak addekuatnya kondisi sosial individu, hubungan sosial, kapital sosial, dan stres kerja yang dialami oleh tenaga kesehatan. Kondisi-kondisi tersebut berkaitan satu sama lain yang ssaliing menopang dan mendukung untuk bisa mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas.

  1. Perspektif epidemiologi sosial

Penelitian epidemiologi menggunakan perspektif sosial untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab suatu  penyakit yang menjadi folus penelitian. Faktor yang diteliti berfokus pada faktor-faktor sosial dari individu dan populasi masyarakat yang berpengaruh pada kesehatan. Eppidemiologi sosial yang digunakan dalam penelitian menjadi faktor penting dalam menentukan penyebab penyakit. Penelitian epidemiologi sosial berkontribusa dan berguna untuk kesehatan masyarakat secara umum (Kaplan, 2004).

Segitiga epidemiologi penyebaran penyakit menghubungkan ketiga faktor yang berperan, yaitu agen penyakit, penjamu/host, dan lingkungan. Penjamu dalam segitiga epidemiologi adalah manusia, dalam hal ini yang dipandang sebagai faktor penyebab penyakit adalah perilaku kesehatannya. Lingkungan sebagai media perantara berkembangnya agen penyakit dan masuknya agen penyakit tersebut ke tubuh manusia.

Selain itu, epidemmiologi sosial penting dalam memudahkan pemahaman yang menjadi penyebab utama penyakit, sehingga metodologi dan konseptual permasalahannya dapat muncul dalam memberikan ilustrasi penyakit bagi uji psikososial dan biomedik (Kasl dan Jones, 2002).

  1. Tantangan penelitian epidemiologi sosial

Tantangan yang dihadapi dalam melakukan penelitian epidemiologi sosial adalah alat ukur yang menjadi pedoman dalam mengukur faktor sosial, variabel yang diteeliti dalam epidemiologi sosial harus bervariasi sehingga harus menggunakan uji multivariat. Desain uji multivariat memungkinkan terjadi kesalahan informasi akibat kesalahan pengukuran (Kasl dan Jones, 2002; Kaplan, 2004).

Relational Dialectics Theory

Standar

Relational dialectics adalah cara berbicara yang digunakan sebagai sarana penyatuan dari perbedaan-perbedaan orang yang melakukan komunikasi. Penggunaan bahasa dialek dalam berkomunikasi dapat menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada diantara komunikator dan komunikan (pendengar). Penggunaan bahasa tertentu yang dapat dipahami semua orang yang berasal dari berbagai daerah juga dapat menghilangkan perbedaan dari orang-orang tersebut, dalam hubungan antar suku atau budaya (Natalle, 2012), contoh menggunakan bahasa Indonesia dalam pertemuan antar suku budaya Indonesia.  Selain itu, penggunaan bahasa dialek juga menunjukkan asal suku budaya yang berbeda-beda, walaupun menggunakan bahasa yang sama. Hal ini terjadi karena adanya percampuran bahasa dan dialek daerahnya yang menyertai (Tucker, 2015).

Penggunaan bahasa dialek dalam berkomunikasi diasumsikan dapat mempermudah pemahaman pendengar dalam mencerna isi dari pembicaraan yang dilakukan (Baxter, 2004). Namun, perbedaan latar belakang budaya dalam berkomunikasi dapat menyebabkan kesalahpahaman. Hal ini bisa terjadi dalam suatu komunitas. Butuh penjelasan mendalam mengenai penekanan bahasa dialek yang digunakan untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam komunitas (Dumlao dan Janke, 2012).

Konsep yang digunakan dalam relational dialectics theory adalah perbedaan bahasa yang menjadi pusat dalam komunikasi banyak orang yang berasal dari berbagai daerah.  Konsep generasi kedua dari relational dialectics theory memandang dialog sebagai sentripetal dan sentrifugal, pijakan dan estetika. Konstruk relational dialectics theory berdasarkan pada kehidupan sosial.

Dialectics theory dikembangkan dan diperkenalkan dari Leslie A. Baxter dari University of Lowa. Gagasan Baxter mengenai penggunaan dialek dalam berkomunikasi didasari oleh teori dialogism Mikhail Bakhtin (1984), seorang Rusia yang mempelajari literatur, budaya, dan filosofi. Bakhtin beranggapan bahwa dalam kehidupan sosial seseorang selalu melakukan dialog (komunikasi dua arah) dengan orang lain. Pandangaan dialog sebagai proses kontradiksi yang menjadi pusat dari relational dialectics.

Baxter bekerjasama dengan Montgomery pada tahun 1996 dalam pembuatan buku Relating: Dialogues and Dialectics dan menjadi dasar untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Dialog yang dibahas dalam buku adalah variasi dialek yang digunakan mahasiswa yang kemudian diperbaiki lagi dalam buku volume 2 menjadi pendekatan variasi dialek menjadi dalam dunia nyata. Namun, Barbara Montgomery berpindah fokus studi di addministrasi akademik, sehingga Baxter melanjutkan teori dialek sendiri di tahun-tahun berikutnya.

Dialectics theory biasa diterapkan saat memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dipahami oleh masyarakat sasaran, bisa menggunakan bahasa nasional maupun bahasa daerah disertai dengan bahasa dialek daerah tersebut untuk memudahkan pemahaman masyarakat mengenai isi materi yang disampaikan. Pemberian pendidikan kesehatan harus menghindari penggunaan bahasa medis yang menyulitkan masyarakat untuk memahaminya. Bahasa yang digunakan harus sesederhana mungkin, disesuaikan dengan status masyarakat sasaran.

Asma Remaja

Standar

Asma merupakan penyakit yang sering diderita oleh anak dan remaja di berbagai belahan dunia. Asma adalah inflamasi kronik pada saluran napas yang muncul secara episodik. Gejala episodik yang sering muncul pada penderita asma yaitu batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada saat beraktifitas, dan berbagai macam gejala yang muncul karena perubahan cuaca.

Asma dapat dikategorikan ringan dan tidak mengganggu aktifitas, tetapi bisa juga dikategorikan berat jika sudah mengganggu saat beraktifitas yang dinilai dari sebelum memperoleh pengobatan. Faktor penyebab terjadinya asma pada remaja menurut Danansuriya dkk (2015) disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik dalam hal ini yang berperan adalah genetik asma, alergik, hiperaktiviti bronkus, jenis kelamin dan ras. Sedangkan faktor lingkungan bisa disebabkan karena sensitisasi bahan lingkungaan kerja, alergen, asap rokok, polusi udara, diet, dan status sosioekonomi.

Anak dan remaja (usia 5-17 tahun) merupakan kelompok pasien asma yang sering dirawat di Rumah Sakit (Dowdell Eb, et al. 2011). Hasil penelitian Potter M. et al (2012 vol. 109 No 6: 408-411) diketahui bahwa ada hubungan antara kegemukan pada masa kecil dan asma yang diderita saat dewasa muda atau remaja. Anak laki-laki maupun perempuan yang mengalami kegemukan pada usia 6-8 tahun beresiko untuk mengalami asma pada usia 18-20 tahun.

Kebiasaan merokok dan minum alkohol juga berkaitan dengan kelompok remaja yang menderita asma dibandingkan kelompok remaja tanpa asma (Dowdell Eb, et al. 2011). Orang tua dalam hal ini berperan untuk mengatur kebiasaan para remaja dengan asma selama dirumah dengan meniadakan rokok, alkohol, dan pencetus asma lainnya. Orang tua, teman sebaya, dan remaja dengan asma membutuhkan taambahan pendidikan kesehatan untuk mengurangi dan mengantisipasi faktor-faktor yang manjadi pencetus asma dengan mengatur lingkungan sekitar.

CAKUPAN PELAKSANAAN PROGRAM IMUNISASI HEPATITIS B PADA BAYI

Standar

Hiprocrates menemukan penyakit pada liver dengan jaundice sebagai manifestasi klinisnya pada abad ke-8. Penyakit liver tersebut sekarang lebih dikenal dengan nama hepatitis. Terdapat lebih dari 500 – 700 ribu orang meninggal karena terinfeksi virus hepatitis B. Infeksi virus hepatitis B atau C akut akan berakhir pada kanker dan sirosis hati yang menyebabkan angka kematian semakin tinggi. Di Indonesia sebagian besar penderita hepatitis B adalah bayi dan balita yang disebabkan penularan vertikal dari ibu ke janin yang dikandungnya (WHO, 2010). Hepatitis B menular melalui kontak darah atau cairan tubuh, berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi hepatitis B, dan berbagi peralatan pribadi yang memungkinkan terjadi penularan (sikat gigi, pisau cukur, dll).

Perkembangan teknologi molekuler berdampak positif pada penemuan berbagai antigen atau vaksin berbagai penyakit menular dan berbahaya yang berkembang di masyarakat. Pada tahun 1965 ditemukan antigen hepatitis di Philadelphia oleh Blumberg dkk. Pada tahun 1981 vaksin hepatitis B mulai diproduksi masal. Indonesia mulai menerapkan Program Nasional vaksinasi hepatitis B pada tahun 1997.

Berdasarkan UU No. 26 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan imunisasi sebagai upaya meningkatkan kesehatan dengan cara mencegah terjadinya penyakit menular dan menurunkan angka kematian anak (Permenkes No 42 tahun 2013). Tingginya angka kematian anak yang disebabkan penyakit TBC, dipteri, pertusis, campak, tetanus, polio, dan heppatitis B di Indonesia mendorong untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada anak usia 12-13 bulan (Depkes, 2008).

Jadwal pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi bergantung pada status HbsAg ibu saat melahirkan dan usia kandungan sehingga terdapat perbedaan pada kuantitas vaksin yang disuntikkan. Bayi lahir cukup bulan memiliki sistem imun yang adekuat untuk meningkatkan respon imun dari vaksin atau imunisasi yang diberikan (Satgas Imunisasi IDAL, 2000)

Faktor yang berperan terhadap lama dan intensitas proteksi respon imun humoral terhadap vaksin hepatitis B adalah presentasi, diferensisasi dan maturasi  limfosit (Rosalina, 2012). Selain itu, keberhasilan imunisasi juga bergantung pada status imun, faktor genetik penjamu, usia, kualitas dan kuantitas vaksin yang digunakan.

Kecemasan ibu terhadap efek samping imunisasi pada anak berpengaruh pada kelengkapan imunisasi dasar pada bayi. Hal ini dapat disebabkan karena keterbatasan informasi mengenai pentingnya imunisasi dasar lengkap yang dianjurkan Kementerian Kesehatan RI di masyarakat. Banyaknya daerah terpencil atau terpelosok di Indonesia yang sulit dijangkau oleh tenaga kesehatan dan juga akses ke pusat layanan kesehatan menjadi penghambat dalam penyebaran informasi kesehatan. Cakupan imunisasi hepatitis B pada anak usia 12-13 bulan di Indonesia masih dibawah cakupan imunisasi dasar lainnya, seperti BCG, campak, polio, dan DPT (Depkes, 2008).

Berbagai penelitian mengenai pelaksanaan program imunisasi hepatitis B menunjukkan hasil yang sama tentang pengaruh pendidikan ibu pada tindakan imunisasi anak. Permasalahan faktor pendidikan yang berpengaruh pada sikap dan tindakan dalam kepatuhan masyarakat pada program kesehatan pemerintah tidak dapat dipungkiri lagi. Selain itu, faktor budaya yang ada di masyarakat juga berpengaruh pada tindakan kesehatan dalam mendukung program pemerintah.

Pentingnya melaksanakan program imuunisasi dasar pada bayi belum banyak diketahui masyarakat karena kurangnya sosialisasi dan informasi. Tenaga kesehatan yang menolong persalinan wajib memberikan informasi jadwal imunisasi bayi sebelum pulang yang harus dipatuhi ibu untuk meningkatkan level kesehatan anak. Mengingatkan jadwal imunisasi bisa diulang setiap kali bertemu dengan ibu dan bayi pada kunjungan nifas atau imunisasi sehingga cakupan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi meningkat, termasuk imunisasi hepatitis B. Diharapkan cakupan imunisasi yang meningkat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas anak.

PEREMPUAN DAN HIV/AIDS

Standar

HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang ditularkan oleh virus Human Immunodefiency Virus yang menyerang ketahanan tubuh manusia sehingga mudah terkena berbagai macam penyakit. Kasus HIV/AIDS merupakan kasus fenomena gunung es, dimana kasus yang dilaporkan berjumlah lebih kecil dari pada kasus yang ada di masyarakat. Jumlah infeksi HIV pada tahun 2012 sebanyak 607 dan kasus AIDS sebanyak 797 kasus yang dilaporkan dari hasil VCT rumah sakit di Jawa Tengah (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2012).

Jumlah perempuan positif HIV di Indonesia akan terus meningkat karena praktik tradisional dan kurangnya akses pelayanan kesehatan yang menangani permasalahan HIV. Ditinjau secara biologis perempuan lebih rentan dibanding laki-laki karena hubungan seks dapat membuat vagina lecet dan virus HIV masuk melalui luka tersebut. Penularan HIV dari laki-laki kepada perempuan lebih efektif karena konsentrasi HIV dalam cairan mani jauh lebih tinggi dibandingkan konsentrasi HIV dalam cairan vagina (Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI, 2008).

Peneliti, pembuat kebijakan, dan pembuat program-program kesehatan berasumsi bahwa gender berperan dalam kerentanan terhadap HIV/AIDS (Interagency Coalition on AIDS and Development, 2006). Peran gender sebagai konstruk sosial membedakan laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan kesempatan dan hak mendapatkan pekerjaan, informasi, dan pelayanan kesehatan. Hal ini berdampak pada kerentanan salah satu kelompok terhadap penularan HIV.

Ketidaksetaraan gender dipandang menjadi penghalang dalam penanggulangan penularan HIV dan hambatan dalam memberikan pelayanan komprehensif terhadap HIV (USAID, 2011). Norma-norma sosial yang berkembang dimasyarakat mengenai perbedaan kesempatan dalam mendapatkan informasi kesehatan menyebabkan keterbatasan perempuan di seluruh dunia untuk memproteksi diri dari HIV (Interagency Coalition on AIDS and Development, 2006). Keterbatasan akses pada perempuan untuk mendapatkan informasi tentang HIV dan kurangnya pelayanan kesehatan khusus tentang aktifitas seksual berbahaya turut serta dalam peningkatan jumlah pengidap HIV.

Perempuan dipandang lebih rentan terkena HIV karena peran tradisional di masyarakat berdasarkan adat istiadat dan agama, terutama dalam rumah tangga. Jumlah perempuan yang terkena HIV di Indonesia mengalami kenaikan dari 34 persen pada tahun 2008 menjadi 44 persen pada tahun 2011 (UNICEF Indonesia, 2012). Peran istri dalam masyarakat tradisional yang harus menuruti kemauan suami dan kepasrahan pada takdir menyebabkan jumlah ibu rumah tangga meningkat seiring dengan bertambahnya penderita HIV.

Penggolongan pekerjaan yang pantas dilakukan oleh laki-laki dan perempuan juga berperan serta terhadap semakin meningkatnya jumlah perempuan yang terkena HIV di Indonesia. Perempuan yang bekerja di panti pijat, bar karaoke, dan tempat hiburan malam tidak sedikit dari mereka yang juga memberikan layanan seks kepada klien. Perilaku pekerja seks perempuan tersebut menjadikan mereka rentan terhadap penularan HIV.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 28.000 perempuan menikah di India mengemukakan bahwa perempuan yang menerima kekerasa, baik fisik maupun seksual, dari pasangannya menaikkan resiko menjadi perempuan dengan HIV positif tiga kali lebih besar dibanding perempuan yang tidak mengalami kekerasan (Jane Brunning dkk, 2011).

Upaya penghapusan ketidaksetaraan gender dengan penghapusan segala bentuk kekerasan, pelecehan seksual, dan eksploitasi seksual perempuan dan remaja perempuan digunakan untuk melindungi perempuan dari infeksi HIV. Upaya kesetaraan gender diharapkan dapat memenuhi hak perempuan dalam mencapai akses pelayanan kesehatan, kesempatan membuka diri, memperoleh informasi kesehatan sebagai perlindungan mereka dalam konteks HIV.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dinkes Jateng. 2012. Profil Kesehatan Jawa Tengah 2012. Semarang

Interagency Coalition on AIDS and Development. 2006. HIV/AIDS and Gender Issues. Ottawa

Jane Bruning dkk. 2011. Perempuan dan Remaja Perempuan & Deklarasi Politik untuk HIV dan AIDS 2011. APCASO: Kuala Lumpur

Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia. 2008. Pemberdayaan Perempuan dalam Pencegahan Penyebaran HIV-AID. Jakarta

UNICEF INDONESIA. 2012. Respon Terhadap HIV & AIDS. Jakarta

USAID. 2011. Upaya Mendukung Penanggulangan HIV/AIDS. Jakarta

BRONKITIS ANAK

Standar

Bronkus dan bronkiolus pada saluran nafas anak merupakan bagian reaktif sehingga mudah terserang virus yang menyebabkan infeksi saluran nafas. Peradangan akut pada bronkus akut atau kronik yang ditandai dengan demam, batuk, dan mengi biasa dikenal dengan nama bronkitis.

Virus mycoplasma pneumoniae menjadi penyebab yang paling sering ditemukan pada anak usia 1-2 tahun yang mengalami gangguan pada jalan nafas, yang dicirikan dengan batuk non produktif yang memburuk dimalam hari menjadi produktif dalam 2-3 hari (Newell, 2009).

Resiko anak meningkat terkena bronkitis apabila ibunya seorang perokok aktif dan ada anggota keluarga yang mempunyai kebiasaan merokok di rumah. Pengobatan pada bronkitis diutamakan dengan pemberian antiinflamasi bukan bronkodilator. Beberapa penelitian meyebutkan kurang bermanfaatnya bronkodilator  yang digunakan pada anak dengan bronkitis (Supriyatno, 2006).

Faktor resiko terjadinya infeksi respiratori akut bawah yang dapat berpengaruh pada terjadinya bronkitis antar lain status ekonomi rendah dan lingkungan rumah yang padat tanpa adanya ventilasi yang kurang memadai sehingga memungkinkan terjadi penularan melalui udara dalam bentuk droplet dari orang sekitar yang batuk atau bersin. Sanitasi lingkungan yang tidak memadai dan praktik hygiene yang kurang juga dapat meningkatkan paparan pada kelompok berstatus ekonomi rendah. Selain itu, sering kontak fisik dengan binatng peliharaan juga meningkatkan resiko terjadi infeksi saluran nafas dari bulu-bulu binatang yang rontok (Tamba, 2009).

Faktor umur, berat badan lahir rendah, imunisasi yang tidak lengkap dan pemberian ASI eksklusif kurang dari 6 bulan diketahui menjadi faktor terjadinya infeksi respiratori akut bawah walaupun tidak menjadi faktor penyebab utama. Dalam hal ini, terjadinya infeksi respiratori akut bawah karena kurangnya imunitas tubuh anak dalam menangkal gangguan saluran pernafasan.

Bronkitis yang ditandai dengan sesak nafas harus bisa dibedakan dengan asma. Sesak nafas pada penderita bronkitis terjadi pada pertama kali terinfeksi, sedangkan sesak nafas pada asma terjadi berulang kali dan tidak disertai demam.

Batuk pada anak berbeda dengan batuk pada dewasa sehingga dibutuhkan pendekatan diagnostik yang berbeda untuk menentukan diagnosis untuk menentukan penanganan yang tepat, agar tidak bertambah parah menjadi bronkitis kronik (Setyanto, 2004). Bronkitis kronik dan emfisema dapat menyebabkan terjadinya obstruksi saluran nafas (Wisnuwardhani, 2013)

Penatalaksanaan bronchitis pada anak tampak efektif dengan fisioterapi infra red dan chest fisioterapi yang bertujuan untuk mengeluarkan spuntum/dahak, mengurangi sesak nafas, dan mengurangi spasme otot bantu pernafasan (Fitrianingrum, 2013).

Terapi obat yang diberikan pada pasien bronkitis akut pada dasarnya hanya memberikan kenyamanan, terapi dehidrasi dan gangguan paru yang ditimbulkannya. Berbeda dengan pemberian terapi obat pada pasien bronkitis kronik, dimana obat diberikan dengan tujuan mengurangi keganasan gejala, menghilangkan eksaserbasi dan mencapai interval bebas infeksi yang panjang (Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2005).

 

Daftar Pustaka

Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan. Departemen Kesehatan RI: Jakarta

Firtrianingrum, M.R. 2013. KTI. Penatalaksanaan Infra Red dan Chest Physiotherapy pada Brinchitis Acute di RS PKE Muhammadiyah Yogyakarta. UMS. Surakarta

Newell, S.J. 2006. Pediatrik, Edisi 7. Erlangga: Jakarta

Setyanto, D.B. 2004. Batuk Kronik pada Anak: Masalah dan Tata Laksana. Sari Pediatri: Jakarta

Supriyatno, B. 2006. Infeksi Respiratorik Bawah Akut. Sari Pediatri: Jakarta

Tamba, R.A.P. 2009. Tesis. Faktor Resiko Infeksi Respiratori Akut Bawah pada Anak di RSUP dr. Kariadi. UNDIP: Semarang

Wisnuwardhani, Dian. 2013. Hiperreaktivitas Bronkus pada Penyakit Paru Obstruksi Kronik, CDK-207. Jakarta