Relational Dialectics Theory

Standar

Relational dialectics adalah cara berbicara yang digunakan sebagai sarana penyatuan dari perbedaan-perbedaan orang yang melakukan komunikasi. Penggunaan bahasa dialek dalam berkomunikasi dapat menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada diantara komunikator dan komunikan (pendengar). Penggunaan bahasa tertentu yang dapat dipahami semua orang yang berasal dari berbagai daerah juga dapat menghilangkan perbedaan dari orang-orang tersebut, dalam hubungan antar suku atau budaya (Natalle, 2012), contoh menggunakan bahasa Indonesia dalam pertemuan antar suku budaya Indonesia.  Selain itu, penggunaan bahasa dialek juga menunjukkan asal suku budaya yang berbeda-beda, walaupun menggunakan bahasa yang sama. Hal ini terjadi karena adanya percampuran bahasa dan dialek daerahnya yang menyertai (Tucker, 2015).

Penggunaan bahasa dialek dalam berkomunikasi diasumsikan dapat mempermudah pemahaman pendengar dalam mencerna isi dari pembicaraan yang dilakukan (Baxter, 2004). Namun, perbedaan latar belakang budaya dalam berkomunikasi dapat menyebabkan kesalahpahaman. Hal ini bisa terjadi dalam suatu komunitas. Butuh penjelasan mendalam mengenai penekanan bahasa dialek yang digunakan untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam komunitas (Dumlao dan Janke, 2012).

Konsep yang digunakan dalam relational dialectics theory adalah perbedaan bahasa yang menjadi pusat dalam komunikasi banyak orang yang berasal dari berbagai daerah.  Konsep generasi kedua dari relational dialectics theory memandang dialog sebagai sentripetal dan sentrifugal, pijakan dan estetika. Konstruk relational dialectics theory berdasarkan pada kehidupan sosial.

Dialectics theory dikembangkan dan diperkenalkan dari Leslie A. Baxter dari University of Lowa. Gagasan Baxter mengenai penggunaan dialek dalam berkomunikasi didasari oleh teori dialogism Mikhail Bakhtin (1984), seorang Rusia yang mempelajari literatur, budaya, dan filosofi. Bakhtin beranggapan bahwa dalam kehidupan sosial seseorang selalu melakukan dialog (komunikasi dua arah) dengan orang lain. Pandangaan dialog sebagai proses kontradiksi yang menjadi pusat dari relational dialectics.

Baxter bekerjasama dengan Montgomery pada tahun 1996 dalam pembuatan buku Relating: Dialogues and Dialectics dan menjadi dasar untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Dialog yang dibahas dalam buku adalah variasi dialek yang digunakan mahasiswa yang kemudian diperbaiki lagi dalam buku volume 2 menjadi pendekatan variasi dialek menjadi dalam dunia nyata. Namun, Barbara Montgomery berpindah fokus studi di addministrasi akademik, sehingga Baxter melanjutkan teori dialek sendiri di tahun-tahun berikutnya.

Dialectics theory biasa diterapkan saat memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dipahami oleh masyarakat sasaran, bisa menggunakan bahasa nasional maupun bahasa daerah disertai dengan bahasa dialek daerah tersebut untuk memudahkan pemahaman masyarakat mengenai isi materi yang disampaikan. Pemberian pendidikan kesehatan harus menghindari penggunaan bahasa medis yang menyulitkan masyarakat untuk memahaminya. Bahasa yang digunakan harus sesederhana mungkin, disesuaikan dengan status masyarakat sasaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s