PEREMPUAN DAN HIV/AIDS

Standar

HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang ditularkan oleh virus Human Immunodefiency Virus yang menyerang ketahanan tubuh manusia sehingga mudah terkena berbagai macam penyakit. Kasus HIV/AIDS merupakan kasus fenomena gunung es, dimana kasus yang dilaporkan berjumlah lebih kecil dari pada kasus yang ada di masyarakat. Jumlah infeksi HIV pada tahun 2012 sebanyak 607 dan kasus AIDS sebanyak 797 kasus yang dilaporkan dari hasil VCT rumah sakit di Jawa Tengah (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2012).

Jumlah perempuan positif HIV di Indonesia akan terus meningkat karena praktik tradisional dan kurangnya akses pelayanan kesehatan yang menangani permasalahan HIV. Ditinjau secara biologis perempuan lebih rentan dibanding laki-laki karena hubungan seks dapat membuat vagina lecet dan virus HIV masuk melalui luka tersebut. Penularan HIV dari laki-laki kepada perempuan lebih efektif karena konsentrasi HIV dalam cairan mani jauh lebih tinggi dibandingkan konsentrasi HIV dalam cairan vagina (Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI, 2008).

Peneliti, pembuat kebijakan, dan pembuat program-program kesehatan berasumsi bahwa gender berperan dalam kerentanan terhadap HIV/AIDS (Interagency Coalition on AIDS and Development, 2006). Peran gender sebagai konstruk sosial membedakan laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan kesempatan dan hak mendapatkan pekerjaan, informasi, dan pelayanan kesehatan. Hal ini berdampak pada kerentanan salah satu kelompok terhadap penularan HIV.

Ketidaksetaraan gender dipandang menjadi penghalang dalam penanggulangan penularan HIV dan hambatan dalam memberikan pelayanan komprehensif terhadap HIV (USAID, 2011). Norma-norma sosial yang berkembang dimasyarakat mengenai perbedaan kesempatan dalam mendapatkan informasi kesehatan menyebabkan keterbatasan perempuan di seluruh dunia untuk memproteksi diri dari HIV (Interagency Coalition on AIDS and Development, 2006). Keterbatasan akses pada perempuan untuk mendapatkan informasi tentang HIV dan kurangnya pelayanan kesehatan khusus tentang aktifitas seksual berbahaya turut serta dalam peningkatan jumlah pengidap HIV.

Perempuan dipandang lebih rentan terkena HIV karena peran tradisional di masyarakat berdasarkan adat istiadat dan agama, terutama dalam rumah tangga. Jumlah perempuan yang terkena HIV di Indonesia mengalami kenaikan dari 34 persen pada tahun 2008 menjadi 44 persen pada tahun 2011 (UNICEF Indonesia, 2012). Peran istri dalam masyarakat tradisional yang harus menuruti kemauan suami dan kepasrahan pada takdir menyebabkan jumlah ibu rumah tangga meningkat seiring dengan bertambahnya penderita HIV.

Penggolongan pekerjaan yang pantas dilakukan oleh laki-laki dan perempuan juga berperan serta terhadap semakin meningkatnya jumlah perempuan yang terkena HIV di Indonesia. Perempuan yang bekerja di panti pijat, bar karaoke, dan tempat hiburan malam tidak sedikit dari mereka yang juga memberikan layanan seks kepada klien. Perilaku pekerja seks perempuan tersebut menjadikan mereka rentan terhadap penularan HIV.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 28.000 perempuan menikah di India mengemukakan bahwa perempuan yang menerima kekerasa, baik fisik maupun seksual, dari pasangannya menaikkan resiko menjadi perempuan dengan HIV positif tiga kali lebih besar dibanding perempuan yang tidak mengalami kekerasan (Jane Brunning dkk, 2011).

Upaya penghapusan ketidaksetaraan gender dengan penghapusan segala bentuk kekerasan, pelecehan seksual, dan eksploitasi seksual perempuan dan remaja perempuan digunakan untuk melindungi perempuan dari infeksi HIV. Upaya kesetaraan gender diharapkan dapat memenuhi hak perempuan dalam mencapai akses pelayanan kesehatan, kesempatan membuka diri, memperoleh informasi kesehatan sebagai perlindungan mereka dalam konteks HIV.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dinkes Jateng. 2012. Profil Kesehatan Jawa Tengah 2012. Semarang

Interagency Coalition on AIDS and Development. 2006. HIV/AIDS and Gender Issues. Ottawa

Jane Bruning dkk. 2011. Perempuan dan Remaja Perempuan & Deklarasi Politik untuk HIV dan AIDS 2011. APCASO: Kuala Lumpur

Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia. 2008. Pemberdayaan Perempuan dalam Pencegahan Penyebaran HIV-AID. Jakarta

UNICEF INDONESIA. 2012. Respon Terhadap HIV & AIDS. Jakarta

USAID. 2011. Upaya Mendukung Penanggulangan HIV/AIDS. Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s