Preeklamsia

Standar

Preeklamsia adalah kondisi kenaikan tekanan darah pada ibu dgn kehamilan lebih dari 20 minggu dan adanya protein dari pemeriksaan urin. Preeklamsia terjadi pada kurang lebih 2-7% ibu hamil. Risiko terjadinya preeklamsia meningkat pada kehamilan pertama, kehamilan diatas usia 40th, kehamilan kembar , jarak kehamilan jauh (sekitar 10 tahun) dan kehamilan dengan riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.

Jika tidak tertangani, komplikasi yang paling serius adalah terjadinya kejang atau koma, yang disebut sebagai Eklamsia. Kondisi ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian ibu dan janin. Di Indonesia, eklamsia termasuk penyebab kematian utama ibu.

Patofisiologi

Menurut Mochtar (2007) Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerolus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi.

Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui penyebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan glomerolus.

Etiologi / Faktor Penyebab

Penyebab preeklampsia sampai sekarang belum diketahui. Tetapi ada teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab preeklamsia, yaitu :

  1. Bertambahnya frekuensi pada primigraviditas,
  2. kehamilan ganda,
  3. hidramnion, dan
  4. mola hidatidosa
  5. Bertambahnya frekuensi yang makin tuanya kehamilan.

Beberapa teori yang mengatakan bahwa perkiraan etiologi dari kelainan tersebut sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain :

  1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan .
  2. Peran faktor imunologis.
  3. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi system komplemen pada pre-eklampsi/eklampsia.
  4. Peran faktor genetik /familial
  5. Terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi preeklampsi/ eklampsi pada anak-anak dari ibu yang menderita preeklampsi/eklampsi.
  6. Kecenderungan meningkatnya frekuensi pre-eklampsi/eklampspia dan anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat pre-eklampsi/eklampsia dan bukan pada ipar mereka.
  7. Peran renin-angiotensin-aldosteron system (RAAS)

Faktor Predisposisi Preeklamsia

  1. Molahidatidosa
  2. Diabetes melitus
  3. Kehamilan ganda
  4. Hidrops fetalis
  5. Obesitas
  6. Umur yang lebih dari 35 tahun

Gejala-Gejala Preeklamsia

Gejala-gejala yg bisa terjadi antara lain :

  1. pusing,
  2. bengkak di kaki,
  3. jumlah urin berkurang,
  4. nyeri ulu hati,
  5. pandangan kabur.

Klasifikasi Preeklamsia

Menurut Mochtar (2007), Dibagi menjadi dua golongan, yaitu :

  1. Pre-eklamsia ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut
  • Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring terlentang: atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih; atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada dua kali pemeriksaan dengan jarak 1 jam,sebaiknya 6 jam.
  • Edema umum, kaki jari tangan, dan muka, atau kenaikan berat badan ≥ 1 kg per minggu.
  • Proteinuria kwantitatif  ≥ 0,3 gr per liter,kwalitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter atau midstream.
  • Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
  • Proteinuria ≥ 5gr per liter.
  • Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
  • Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri di epigastrium.
  • Terdapat edema paru dan sianosis.
  1. Pre-eklamsia berat, bila disertai keadaan sebagai berikut :
  • Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
  • Proteinuria ≥ 5gr per liter.
  • Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
  • Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri di epigastrium
  • Terdapat edema paru dan sianosis.

Komplikasi

Tergantung pada derajat preeklampsi yang dialami. Namun yang termasuk komplikasi antara lain:

  1. Pada Ibu
  • Eklapmsia
  • Solusio plasenta
  • Pendarahan subkapsula hepar
  • Kelainan pembekuan darah ( DIC )
  • Sindrom HELPP ( hemolisis, elevated, liver,enzymes dan low platelet count )
  • Ablasio retina
  • Gagal jantung hingga syok dan kematian.
  • Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus
  • Prematur
  • Asfiksia neonatorum
  • Kematian dalam uterus
  • Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal
  1. Pada Janin
  • Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus
  • Prematur
  • Asfiksia neonatorum
  • Kematian dalam uterus
  • Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal

Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan Laboratorium
  • Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah
  • Penurunan hemoglobin ( nilai rujukan atau kadar normal hemoglobin untuk wanita hamil adalah 12-14 gr% )
  • Hematokrit meningkat ( nilai rujukan 37 – 43 vol% )
  • Trombosit menurun ( nilai rujukan 150 – 450 ribu/mm3 )
  1. Urinalisis

Ditemukan protein dalam urine.

  1. Pemeriksaan Fungsi hati
  • Bilirubin meningkat ( N= < 1 mg/dl )
  • LDH ( laktat dehidrogenase ) meningkat
  • Aspartat aminomtransferase ( AST ) > 60 ul.
  • Serum Glutamat pirufat transaminase ( SGPT ) meningkat ( N= 15-45 u/ml )
  • Serum glutamat oxaloacetic trasaminase ( SGOT ) meningkat ( N= <31 u/l )
  • Total protein serum menurun ( N= 6,7-8,7 g/dl )
  1. Tes kimia darah

Asam urat meningkat ( N= 2,4-2,7 mg/dl )

  1. Radiologi
  2. Ultrasonografi

Ditemukan retardasi pertumbuhan janin intra uterus. Pernafasan intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan volume cairan ketuban sedikit.

  1. Kardiotografi

Diketahui denyut jantung janin bayi lemah.

Penatalaksanaan

Tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap kehamilan dengan penyulit preeklamsia adalah :

  1. Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan janinya.
  2. Lahirnya bayi yang kemudian dapat berkembang.
  3. Pemulihan sempurna kesehatan ibu

Penanganan Preeklamsia ringan menurut Cuningham dkk. (2005), dapat dilakukan dengan dua cara tergantung gejala yang timbul yakni :

1)      Penatalaksanaan rawat jalan pasien preeklamsia ringan, dengan cara : ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring,tidur/miring), diet : cukup protein, rendah karbohidrat,lemak dan garam; pemberian sedativa ringan : tablet phenobarbital 3×30 mg atau diazepam 3×2 mg/oral selama 7 hari (atas instruksi dokter); roborantia; kunjungan ulang selama 1 minggu; pemeriksaan laboratorium: hemoglobin, hematokrit, trombosit, urin lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi ginjal.

2)      Penatalaksanaan rawat tinggal pasien preeklamsi ringan berdasarkan kriteria : setelah duan minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala preeklamsia; kenaikan berat badan ibu 1kg atau lebih/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu); timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preeklamsia berat.

Konsep  Pencegahan Preeklamsi

Menurut Cuningham dkk. (2005), Berbagai strategi telah digunakan sebagai upaya untuk mencegah preeklamsia. Biasanya strategi-strategi ini mencakup manipulasi diet dan usaha farmakologis untuk memodifikasi mekanisme patofisiologis yang diperkirakan berperan dalam terjadinya preeklamsia. Usaha farmakologis mencakup pemakaian aspirin dosis rendah dan antioksidan.

  1. Manipulasi diet

Salah satu usaha paling awal yang ditujukan untuk mencegah preeklamsia adalah pembatasan asupan garam selama hamil, Knuist dkk. (1998) yang dikutip oleh Cuningham (2005). Manipulasi diet lainnya untuk mencegah preeklamsia yang telah diteliti adalah pemberian empat sampai sembilan kapsul yang mengandung minyak ikan setiap hari. Suplemen harian ini dipilih sebagai upaya untuk memodifikasi keseimbangan prostaglandin yang diperkirakan berperan dalam patofisiologi preeklamsia.

  1. Aspirin dosis rendah

Dengan aspirin 60 mg atau plasebo yang diberikan kepada wanita primigravida peka-angiotensin pada usia kehamilan 28 minggu. Menurunya insiden preeklamsi pada kelompok terapi diperkirakan disebabkan oleh supresi selektif sintesis tromboksan oleh trombosit serta tidak terganggunya produksi prostasiklin.

  1. Antioksidan

Schirif dkk.,(1996) yang dikutip oleh Cuningham (2005), menguji hipotesis bahwa penurunan aktifitas antioksidan berperan dalam preeklamsia dengan mempelajari konsumsi diet serta konsentrasi vitamin E dalam plasma pada 42 kehamilan dengan 90 kontrol. Mereka berspekulasi bahwa tingginya kadar vitamin E yang diamati disebabkan oleh respons terhadap stres oksidatif pada preeklamsia.

  1. Pemeriksaan antenatal

Pemeriksaan antenatal care yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (preeklamsi ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya preeklamsia kalau ada faktor-faktor predisposisi, memberikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diet rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan (Mochtar,2007).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s