Hipospadia

Standar

Istilah hipospadia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Hypo (below) dan spaden (opening). Hipospadia adalah cacat bawaan berupa muara ureta (lubang kencing) yang tidak terletak di ujung penis akibat kegagalan dalam proses pembentukannya. Beberapa variasi lokasi meatus aretra dapat terjadi, dari glans penis sampai ke perineum. Lokasi meatus uretra tersebut menunjukan waktu terjadinya gangguan pembentukan.

Gejalanya adalah:

– Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah atau di dasar penis

– Penis melengkung ke bawah

– Penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit depan penis

– Jika berkemih, anak harus duduk.

Penyebab

Penyebab kelainan ini dapat dijelaskan karena terjadinya gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan organ genital selama masa kehamilan trismester pertama (antara minggu ke 2-4).

Sel-sel intersisial pada testis mengalami involusi prematur oleh karena sebab yang sama pada anomali kongenital lainnya (lihat anomali kraniofasial), sehingga terjadi penurunan kadar hormon androgen mengakibatkan proses maskulinisasi inkomplit. Tergantung saat terjadi dan berat / ringannya gangguan yang timbul, proses pembentukan urethra terhenti; corpus spongiosum, fasia buck dan tunika dartos tidak berkembang sempurna (rudimenter) tampak sebagai jaringan fibrosis yang disebut chordee. Dengan terhentinya pertumbuhan dan perkembangan tersebut, urethra bermuara di setiap titik di batang penis, skrotum, atau bahkan perineum.

Permasalahan

Dengan adanya chordee, batang penis menekuk ke arah bawah dan pada saat ereksi penis tidak dapat lurus. Prosedur miksi juga menimbulkan masalah, karena air seni memancar ke arah bawah, bahkan ke arah anus. Pada anak yang lebih besar (usia balita atau usia sekolah) anak ini akan merasa malu karena proses miksi harus dilakukan sambil duduk di toilet, hampir sama dengan anak wanita. Pada pria dewasa, proses penetrasi penis saat senggama akan terganggu, dan ejakulasi yang tidak pada tempat semestinya akan menimbulkan masalah fertilitas.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan hipospadia adalah tindakan operatif yang terdiri dari 2 (dua) tahap. Pada operasi tahap pertama dikerjakan pelepasan chordee dan membentuk muara urethra di ujung glans penis (tunneling). Kehilangan jaringan yang timbul pada prosedur pelepasan chordee ditutup menggunakan kulit preputium penis. Demikian pula, pembuatan saluran (tunnel) mengambil bahan yang sama pula; itu sebabnya pada bayi-bayi dengan hipospadia ini sirkumsisi merupakan kontra-indikasi. Setelah operasi tahap pertama, penis menjadi lurus saat ereksi. Operasi tahap kedua dikerjakan kurang lebih 6 (enam) bulan setelah operasi tahap pertama. Pembuatan saluran urethra (urethroplasty) dikerjakan menggunakan bahan kulit preputium yang disediakan saat operasi pertama, dan disambungkan dengan saluran (tunnel) yang dibuat sebelumnya. Setelah operasi tahap kedua ini, proses miksi menjadi normal dengan urin keluar pada ujung glans penis.

Prosedur operasi dua tahap ini seyogyanya selesai dikerjakan sebelum anak masuk sekolah, sehingga permasalahan yang dijelaskan sebelumnya tidak dijumpai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s