Labiopalatoskisis

Standar

Labio/plato skisis adalah merupakan kongenital anomali yang berupa adanya kelainan bentuk pada struktur wajah. Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.

labiopalatoskisis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut, palatosisis (sumbing palatum), dan labiosisis (sumbing pada bibir) yang terjadi akibat gagalnya jaringan lunak (struktur tulang) untuk menyatu selama perkembangan embrio.(Aziz  Alimul Hidayat, 2006)

labiopalatoskisis merupakan penyakit congenital anomaly yang berupa adanya kelainan bentuk pada  struktur wajah. (Suriadi, S.Kp. 2001)
ETIOLOGI

  1. Faktor Herediter
    Sebagai faktor yang sudah dipastikan.
    Gilarsi : 75% dari faktor keturunan resesif dan 25% bersifat dominan.
  2. Mutasi gen
  3. Kelainan kromosom
  4. Faktor Eksternal
  5. Faktor usia ibu
  6. Obat-obatan.

Asetosal, Aspirin (SCHARDEIN-1985) Rifampisin, Fenasetin, Sulfonamid, Aminoglikosid, Indometasin, Asam Flufetamat, Ibuprofen, Penisilamin, Antihistamin dapat menyebabkan celah langit-langit. Antineoplastik, Kortikosteroid

  1. Nutrisi
  2. Penyakit infeksi Sifilis, virus rubella
  3. Radiasi
  4. Stres emosional
  5. Trauma, (trimester pertama)

PATOFISIOLOGI
Kelainan sumbing selain mengenai bibir juga bisa mengenai langit-langit. Berbeda pada kelainan bibir yg terlihat jelas secara estetik, kelainan sumbing langit-langit lebih berefek kepada fungsi mulut seperti menelan, makan, minum, dan bicara. Pada kondisi normal, langit-langit menutup rongga antara mulut dan hidung. Pada bayi yang langit-langitnya sumbing barrier ini tidak ada sehingga pada saat menelan bayi bisa tersedak.Kemampuan menghisap bayi juga lemah, sehingga bayi mudah capek pada saat menghisap, keadaan ini menyebabkan intake minum/makanan yg masuk menjadi kurang dan jelas berefek terhadap pertumbuhan dan perkembangannya selain juga mudah terkena infeksi saluran nafas atas karena terbukanya palatum tidak ada batas antara hidung dan mulut, bahkan infeksi bisa menyebar sampai ke telinga.

MANIFESTASI KLINIS
Pada labio Skisis:

  1. Distorsi pada hidung
  2. Tampak sebagian atau keduanya
  3. Adanya celah pada bibir

Pada palato skisis:

  1. Tampak ada celah pada tekak (uvula), palato lunak, dan keras dan atau foramen incisive
  2. Adanya rongga pada hidung
  3. Distorsi hidung
  4. Teraba celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa dengan jari
  5. Kesukaran dalam menghisap atau makan

KOMPLIKASI

  1. Gangguan bicara dan pendengaran
  2. Terjadinya otitis media
  3. Aspirasi
  4. Distress pernafasan
  5. Risiko infeksi saluran nafas
  6. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

  1. Foto rontgen
  2. Pemeriksaan fisisk
  3. MRI untuk evaluasi abnormal

PEMERIKSAAN TERAPEUTIK

  1. Penatalaksanaan tergantung pada beratnya kecacatan
  2. Prioritas pertama adalah pada teknik pemberian nutrisi yang adekuat
  3. Mencegah komplikasi
  4. Fasilitas pertumbuhan dan perkembangan
  5. Pembedahan

Pada labio sebelum kecacatan palato; perbaikan dengan pembedahan usia 2-3 hari atau sampai usia beberapa minggu prosthesis intraoral atau ekstraoral untuk mencegah kolaps maxilaris, merangsang pertumbuhan tulang, dan membantu dalam perkembangan bicara dan makan, dapat dilakukan sebelum penbedahan perbaikan.

Pembedahan pada palato dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun, tergantung pada derajat kecacatan. Awal fasilitaspenutupan adalah untuk perkembangan bicara.

PENATALAKSANAAN

  1. Pada bayi yang langit-langitnya sumbing barrier ini tidak ada sehingga pada saat menelan bayi bisa tersedak.Kemampuan menghisap bayi juga lemah, sehingga bayi mudah capek pada saat menghisap, keadaan ini menyebabkan intake minum/makanan yg masuk menjadi kurang. Untuk membantu keadaan ini biasanya pada saat bayi baru lahir di pasang:
  1. Pemasangan selang Nasogastric tube, adalah selang yang dimasukkan melalui hidung berfungsi untuk memasukkan susu langsung ke dalam lambung untuk memenuhi intake makanan.
  2. Pemasangan Obturator yang terbuat dr bahan akrilik yg elastis, semacam gigi tiruan tapi lebih lunak, jd pembuatannya khusus dan memerlukan pencetakan di mulut bayi. Beberapa ahli beranggarapan obturator menghambat pertumbuhan wajah pasien, tp beberapa menganggap justru mengarahkan. Pada center cleft spt Harapan Kita di Jakarta dan Cleft Centre di Bandung, dilakukan pembuatan obturator, karena pasien rajin kontrol sehingga memungkinkan dilakukan penggerindaan oburator tiap satu atau dua minggu sekali kontrol dan tiap beberapa bulan dilakukan pencetakan ulang, dibuatkan yg baru sesuai dg pertumbuhan pasien.
  3. Pemberian dot khusus, dot ini bentuknya lebih panjang dan lubangnya lebih lebar daripada dot biasa; tujuannya dot yang panjang menutupi lubang di langit-langit mulut; susu bisa langsung masuk ke kerongkongan; karena daya hisap bayi yang rendah, maka lubang dibuat sedikit lebih besar.
  1. Tindakan bedah plastik, dengan beberapa tahap, sebagai berikut :

Penjelasan kepada orangtuanya

  1. Umur 3 bulan (rule over ten) : Operasi bibir dan alanasi(hidung), evaluasi telinga.
  2. Umur 10-12 bulan : Qperasi palato/celah langit-langit, evaluasi pendengaran dan telinga.
  3. Umur 1-4 tahun : Evaluasi bicara, speech theraphist setelah 3 bulan pasca operasi
  4. Umur 4 tahun : Dipertimbangkan repalatoraphy atau/dan Pharyngoplasty
  5. Umur 6 tahun : Evaluasi gigi dan rahang, evaluasi pendengaran.
  6. Umur 9-10 tahun : Alveolar bone graft (penambahan tulang pada celah gusi)
  7. Umur 12-13 tahun : Final touch, perbaikan-perbaikan bila diperlukan.
  8. Umur 17 tahun : Evaluasi tulang-tulang muka, bila diperlukan advancementosteotomy LeFORTI

Tindakan bedah plastik dilakukan pada bayi kondisi baik. Oleh karena itu kesehatan bayi harus dijaga dengan memberikan minum atau makan sesuai kebutuhan bayi. Hindari kontak dengan penderi ta batuk pilek dan segera berobat bila bayi menderita batuk pilek.

Tujuan operasi plastik ini adalah:

  1. Memulihkan struktur anatomi
  2. Mengoreksi cacat
  3. Menormalkan fungsi menelan, napas, bicara

Pembedahan biasanya dilakukan ketika anak berumur sekitar 3 bulan.

–          Perawatan pra bedah

  1. Makanan:

1)      Pada kasus ringan, ada kemungkinan diberikan ASI dengan cara menetek.

2)      Jika tidak dapat menetek dapat diberikan melalui botol dot.

3)      Jika sulit minum melalui dot, berikan dengan sendok dan biarkan bayi menghisapnya.

4)      Kesulitan menelan lebih jelas pada sumbing palatum. Bayi dapat mengalami regurgitasi susu ke hidung dan aspirasi.

5)      Untuk itu perlu disiapkan alat penyedot.

6)      Alat protesis yang  dapat menutup  sumbing kadang  diperlukan agar  memungkinkanmakan tanpa terjadi regurgitasi.

7)      Pola pemberian makanan yang baik akan menjamin keadaan fisik baik, bertambah berat badan dan tidak anemis.

  1. Antibiotika

Diberikan antibiotika sebagai pencegahan infeksi pada masa paska bedah.

–          Persiapan umum prabedah:

1)      Keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit.

2)      Mempersiapkan lingkungan yang sesuai menurut fisik dan umur anak.

3)      Persiapan psikologis.

4)      Persiapan fisik: Kulit, lavase rektal, lavase gaster dan aspirasi gaster.

5)      Premedikasi.

6)      Persiapan bagi anak kembali dari pembedahan.

–          Perawatan paska bedah

1)      Managemen rutin:

2)      Perawatan rutin

3)      Penanganan yang seksama

4)      Pemeliharan saluran udara yang bersih

5)      Pemeliharaan suhu tubuh

6)      Pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit

7)      Sedasi yang adekuat

8)      Observasi luka

Managemen spesifik:

  1. Imobilisasi lengan agar anak tidak menyentuh garis jahitan.
  2. Sedasi yang kuat agar anak tidak menangis dan berakibat jahitan tegang dan terbuka.
  3. Pembalutan garis jahitan agar tetap bersih.
  4. Pengangkatan jahitan dilakukan setelah hari ke lima. Pada sumbing palatum pengangkatan lebih lama dan biasanya

Di kamar bedah dibawah sedasi.

  1. Pemberian makanan dapat segera dimulai setelah bayi sadar dan ada reflek menelan.
  2. Pada sumbing palatum, diberikan cairan glukose steril. Selanjutnya makanan lunak dengan disusul air steril.
  3. Terapi wicara diberikan pada anak yang bicaranya tidak berkembang sempurna.

KOMPLIKASI PASCA PEMBEDAHAN

  1. Aspirasi
  2. Regurgitasi
  3. Infeksi berulang
  4. Gagal tumbuh

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s