Inersia Uteri

Standar

Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida, khususnya pada primigravida tua. Pada multipara lebih banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri. Satu sebab yang penting dalam kelainan his, khususnya inersia uteri, ialah apabila bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus misalnya pada kelainan letak janin atau disproporsi sefalopelvik. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda maupun hidramnion juga dapat merupakan penyebab dari inersia uteri yang murni.

Disini his bersifat biasa dalam arti bahwa fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu daripada bagian-bagian lain, peranan fundus tetap menonjol. Kelainanya terletak dalam hal kontraksi uterus lebih aman, singkat dan jarang daripada biasa. Kekuatan his berkurang, berlangsung singkat, dan interval antar his lebih lama. Pada inersia uteri, dominansi fundus masih ada, tapi tidak efektif.

Inersia uteri dibagi atas 2 keadaan :

  1. Inersia uteri primer. Kelemahan his timbul sejak permulaan persalinan.
  2. Inersia uteri skunder. Kelemahan his yang timbul setelah adanya his yang kuat, teratur dan dalam waktu yang lama.

Etiologi

Menurut Rustam Mochtar (1998) sebab-sebab inersia uteri adalah :

  1. Kelainan his sering dijumpai pada primipara
  2. Faktor herediter, emosi dan ketakutan
  3. Salah pimpinan persalinan dan obat-obat penenang
  4. Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah rahim, ini dijumpai pada kesalahan-kesalahan letak janin dan disproporsi sevalopelvik
  5. Kelainan uterus, misalnya uterus bikornis unikolis
  6. Kehamilan postmatur (postdatism)
  7. Penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia
  8. Uterus yang terlalu teregang misalnya hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia

Penyebab

  1. Myometrium sudah lelah untuk berkontraksi akibat dehidrasi dan kurangnya makanan atau elektrolit pada ibu yang bersalin.
  2. Rasa khawatir pada ibu
  3. Kondisi uterus, seperti infeksi pada uterus dan chorioamnionitis
  4. Terlepasnya plasenta terlalu dini
  5. Administrasi obat yang terlalu awal, seperti analgesi epidural. Analgesi epidural memperpanjang kala I dan II.
  6. Posisi ibu saat bersalin. Uterus berkontraksi lebih terkoordinasi dengan kekuatan yang kurang kuat pada posisi lateral, sedang kontraksi uterus bisa lebih kuat dengan frekuensi kurang pada posisi supinasi.

Diagnosis

Untuk mendiagnosa inersia uteri memerlukan pengalaman dan pengawasan yang teliti terhadap persalinan. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah mulai. Untuk sampai kepada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi. Pada fase laten diagnosis akan lebih sulit, tetapi bila sebelumnya telah ada kontraksi (his) yang kuat dan lama, maka diagnosis inersia uteri sekunder akan lebih mudah.

Penanganan

  1. Cek apakah ada malpresentasi, malposisi, penurunan atau stagnansi dilatasi serviks, dan DKP (disproporsi Kepala Panggul)
  2. Pacuan dengan oksitosin atau sintosinon per intravena atau pun intramuskular
  3. Pemberian oksitosin dengan 5 kesatuan dalam larutan Ringer Laktat 5% dekstrosa, dengan kecepatan 8-40 tetes/menit. Kecepatan tetesan dimulai dari 8 tetes/menit. Jika setelah 15 menit tidak ada perkembangan, maka ditambah 4 tetes/menit.
  4. Pacuan dilakukan selama 4-6 jam. Lalu diistirahatkan dan dipacu lagi (jika tidak ada perkembangan pada pacuan sebelumnya). Kalau masih tidak ada perkembangan setelah pacuan yang kedua, maka lakukanlah sectio caesaria.

Obat-obatan yang bisa meningkatkan kontraksi uterus :

  1. Misoprostol tablet (cervical ripening, kontraksi) paling tepat digunakan untuk inersia uterus primer. Tablet misoprostol merupakan senyawa prostaglandin E2 →pelunakan serviks→mudah berdilatasi. Pelunakan serviks →menstimulus pelepasan oksitosin dari hipofisis posterior →meningkatkan kontraksi uterus
  2. Dinoprostone, penggunaannya saat ini kurang praktis
  3. Pemasangan balon kateter di ostium uteri eksterna →melunakkan dan mendilatasi serviks
  4. Pemecahan ketuban pada fase aktif dapat dilakukan jika tidak ada disproporsi janin dan pelvis. Hal ini memberikan efek penekanan kepala janin terhadap serviks → bisa memacu kontraksi

Augmentasi Persalinan

  • Dosis awal oksitosin 1 – 2 mU / min
  • Interval dinaikkan setiap 30 min.
  • Dosis kenaikan 1 – 2 mU
  • Dosis biasa untuk persalinan yang baik 8- 10 mU / min.

Kekuatan kontraksi tergantung dosis oksitosin dan sensitivitas uterus terhadap oksitosin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s