Anoreksia Nervosa

Standar

Anoreksia nervosa (AN) adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang. Pencitraan diri pada penderita AN dipengaruhi oleh bias kognitif (pola penyimpangan dalam menilai suatu situasi) dan memengaruhi cara seseorang dalam berpikir serta mengevaluasi tubuh dan makanannya.

Gangguan pada pola makan ini lebih sering dialami oleh perempuan muda termasuk remaja, terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai artis, model, penari, dan atlet. Umumnya akibat rasa takut berlebihan jika terlihat gemuk, selain juga  tuntutan profesi yang lebih mementingkan penampilan tubuh yang sempurna (kurus ataupun langsing).

Penyebab pasti anoreksia nervosa masih belum diketahui namun diduga akibat kombinasi antara karakter pribadi, emosi, dan pola pikir. Faktor yang berparan sebagai penyebab anoreksia nervosa yaitu :

  1. Penyebab Genetik

Studi pada anak kembar dengan DNA identik menunjukkan bahwa seseorang memiliki peluang hingga 50% terkena anorexia jika memiliki anggota keluarga yang merupakan penderita anorexia.

Studi lain menunjukkan bahwa serotonin memiliki efek pada perkembangan anorexia. Ketidakseimbangan jumlah serotonin di otak terbukti menyebabkan beberapa gangguan termasuk depresi klinis, kecemasan, dan anorexia.

  1. Penyebab Lingkungan

Tekanan sosial dari media yang sering menggambarkan aktris berbadan sangat langsing turut berkontribusi terhadap terjadinya penyakit ini.

Aktris, musisi, dan model langsing bahkan cenderung kurus memicu ilusi perihal berat badan ideal. Hal ini mendorong terciptanya obsesi tidak sehat untuk meniru kelangsingan mereka dengan mengorbankan kesehatan dan keselamatan diri sendiri.

Kondisi ini diperburuk dengan citra di masyarakat yang menganggap orang dengan berat badan diatas normal sebagai tidak cantik atau tidak modis.

Penderita anoreksia nervosa memiliki ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan dan ketidaksempurnaan bentuk tubuh mereka. Akibatnya, mereka mengurangi porsi dan frekuensi makan mereka secara ekstrim.
Gangguan anoreksia antara lain:

  1. Penurunan berat badan yang sangat cepat dalam beberapa minggu atau bulan.
  2. Terus terusan membatasi makan/diet meskipun sudah kurus.
  3. Memiliki ketertarikan yang di luar kebiasaan terhadap suatu makanan, kalori, nutrisi atau memasak.
  4. Sangat ketakutan bila berat badan meningkat.
  5. Mempunyai kebiasaan makan yang aneh bahkan cenderung rahasia.
  6. Takut gemuk meski sudah sangat kurus.
  7. Tidak mampu menilai secara realistis terhadap berat badan seseorang.
  8. Ingin selalu tampak sempurna dan suka mengkritik diri sendiri.
  9. Kepercayaan diri sangat dipengaruhi oleh berat badan dan bentuk tubuh.
  10. Depresi, cemas dan mudah marah.
  11. Siklus haid yang tidak teratur dan bahkan tidak haid pada wanita.
  12. Menggunakan obat diuresis, laksatif dan pil diet.
  13. Sering sakit.
  14. Menggunakan pakaian yang longgar untuk menutupi badan yang kurus.
  15. Berolah raga yang berlebihan.
  16. Merasa tidak berguna dan tidak ada harapan.
  17. Putus asa.
  18. Gangguan fisik seperti tidak kuat pada cuaca dingin, anemia, dan lain lain.

Bila tidak segera diatasi, anoreksia dapat menyebabkan:

  1. Kerusakan organ khususnya jantung, otak dan ginjal.
  2. Penurunan tekanan darah, nadi dan frekuensi nafas.
  3. Rambut rontok.
  4. Detak jantung yang tidak teratur.
  5. Osteoporosis.
  6. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
  7. Kematian akibat kelaparan atau bunuh diri.

Perawatan kegawat daruratan pada anoreksia diperlukan jika terdapat kondisi dehidrasi berat, malnutrisi, gagal ginjal dan detak jantung tidak teratur yang mengancam nyawa.

Gawat atau tidak, pengobatan anoreksia memerlukan tantangan akibat penderita menolak dianggap memiliki masalah. Seperti gangguan makan yang lain, anoreksia memerlukan penanganan yang komprehensif untuk mengetahui kebutuhan tiap tiap pasien.

Tujuan pengobatan adalah mengembalikan berat badan ke posisi sehat, mengatasi masalah emosional, memperbaiki pola pikir dan menjaga agar perubahan tersebut berlangsung terus menerus. Pengobatan sering mengkombinasikan antara psikoterapi dan obat obatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s