Kekerasan Pada Perempuan

Standar

Tindakan kekerasan atau kejahatan disebut juga sebagai kriminalitas, kekerasan bukan merupakan peristiwa herediter (bawaan sejak lahir atau warisan), juga bukan warisan biologis (Kartini Kartono, 1981: 121), tindakan kekerasan bisa dilakukan oleh siapapun baik pria maupun wanita, dapat berlangsung pada usia anak dewasa ataupun lanjut usia.

Secara yuridis formal tindak kekerasan merupakan suatu bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan (immoral), merugikan masyarakat a-sosial dan melanggar hukum serta undang-undang pidana

Platform For Action and Beijing Declaration menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan berdasarkan gender, termasuk ancaman, pemaksaan atau perampasan hak-hak kebebasan, yang terjadi baik didalam rumah tangga atau keluarga (privat life), maupun di dalam masyarakat (public life) yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan bagi wanita baik secara fisik, seksual maupun fsikologis (United Nations Depertement of Public Relation 1986)

Angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia juga terus mengalami kenaikan dalam setiap tahunnya. Data Komnas Perempuan mencatat 105.103 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi sepanjang 2010. Tidak hanya itu, sejumlah kebijakan juga ikut melanggengkan praktik kekerasan terhadap perempuan. Sebut contoh, UU Perkawinan hingga saat ini masih membolehkan poligami, UU Pornografi yang memuat pasal-pasal yang mengkriminalkan perempuan.

Tak hanya itu saja, banyak kebijakan-kebijakan yang mendiskiriminasikan perempuan. Komnas Perempuan hingga November 2011 mencatat setidaknya terdapat 207 kebijakan yang mendiskriminasikan perempuan.

Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah yang sering terjadi di dalam maupun di luar rumah. Kekerasan terhadap perempuan lebih merupakan wujud masalah bias gender, yang menempatkan perempuan dalam posisi inferior. Bahkan dalam keluarga yang semestinya menjadi unit sosial utama yang berfungsi memberi perlindungan, sering gagal, karena justru kekerasan terhadap perempuan lebih sering terjadi dalam keluarga. Keluarga juga telah menjadi basis sosialisasi ketidaksetaraan gender yang telah menyebabkan banyak laki-laki menjadi pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan di dalam maupun di luar rumah.

Jagger dan Rottenberg (2002), memberikan beberapa penjelasan mengenai penindasan terhadap perempuan, yaitu :

  1. Secara historis perempuan merupakan kelompok pertama yang tertindas
  2. Penindasan terhadap perempuan terjadi dimana-mana dalam masyarakat
  3. Penindasan perempuan adalah bentuk penindasan yang paling sulit di lenyapkan dan tidak akan bisa dihilangkan melalui perubahan-perubahan sosial lain, seperti penghapusan kelas masyarakat
  4. Penindasan terhadap perempuan menyebabkan penderitaan yang paling berat bagi korban-korbannya, meskipun penderitaan ini berlangsung tanpa di ketahui oleh orang lain.

Akar Masalah Kekerasan pada Perempuan

Kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena sosial yang telah berlangsung lama dari masyarakat yang masih primitive sampai pada masyarakat modern sekarang ini, berbagai tindak kekerasan telah di alami oleh perempuan dari waktu-kewaktu, banyak faktor-faktor yang melatar belakangi timbulnya tindak kekerasan terhadap perempuan, diantaranya faktor budaya, faktor social, dan faktor ekonomi.

  1. Faktor Budaya
  2. Faktor Sosial
  3. Faktor Ekonomi

Upaya Pemerintah Mengatasi Masalah Kekerasan pada Perempuan

Pemerintah telah berupaya untuk mengoptimalkan penanganan kekerasan terhadap perempuan melalui P2TP2A yang didorong untuk ditumbuhkan dan dikembangkan di setiap daerah provinsi maupun kota/kabupaten. Organisasi P2TP2A mengkoordinasikan dan mensinergikan berbagai upaya penanganan kekerasan terhadap perempuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu P2TP2A melibatkan berbagai instansi terkait serta berbagai elemen masyarakat termasuk organisasi sosial yang memiliki kepedulian, kewenangan dan keahlian dalam penanganan KDRT, termasuk pekerja sosial. Pekerja sosial dalam P2TP2A dapat berperan terutama dalam memberikan pelayanan sosial untuk meminimalkan dampak buruk kekerasan terhadap kondisi dan perkembangan psikososial dan meningkatkan keberfungsian sosial korban, serta meningkatkan kemampuan mereka untuk mencegah berlangsungnya kembali kekerasan.

Pekerja sosial juga diharapkan dapat berperan dalam menghubungkan korban dengan sumber dukungan baik yang bersifat informal maupun formal yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan di atas, bahkan mengembangkan kemampuan sistem sumber untuk menyediakan dukungan sosial yang diperlukan korban. Di samping itu, pekerja sosial diharapkan dapat berperan dalam membantu memfasilitasi musyawarah dalam penyelesaian masalah dengan pelaku untuk menegakan keadilan atau menyediakan pendampingan sosial dalam menempuh proses hukum dalam penyelesaian masalah tersebut.

Pekerja sosial juga dapat memberi kontribusi untuk pengembangan P2TP2A maupun pengembangan kebijakan dalam penanganan kekerasan terhadap perempuan di daerahnya (diadaptasi dari tujuan pekerja sosial dalam DuBois dan Miley, 2005).

Upaya Masyarakat Mengatasi Kekerasan pada Perempuan

Kekerasan terhadap perempuan sebagai suatu ancaman global terhadap kemanusian, dan telah menjadi isu gender yang cukup sentral, mengharuskan kita untuk mengatasi, dan meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan, beberapa hal yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut :

  1. Perlunya penyuluhan-penyuluhan dan kampanye-kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, terutama dari pemerintah dan juga lembaga-lambaga sosial masyarakat, serta memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk memperlakukan wanita sebagai sosok yang perlu di hormati dan dimuliakan
  2. Dalam bidang pendidikan diharapkan pihak institusi pendidikan sebagai lembaga sosialisasi formal, untuk turut memberikan materi-materi yang berhubungan dengan kriminalitas dan bahayanya bagi masyarakat, serta memberikan pendidikan agama yang maksimal demi teciptanya individu yang beriman dan berahlak mulia
  3. Perlunya pemberian pemahaman di dalam keluarga terutama oleh orang tua untuk selalu mengawasi perekembangan anak, tingkahlaku, tindakan yang mereka lakukan, serta memberikan pemahaman untuk bertindak yang wajar didalam lingkungan masyarakat, misalnya anak perempuan di anjurkan untuk memakai pakaian yang sopan dan banyak hal lainya yang bisa di lakukan dalam pranata keluarga
  4. Perlunya peningkatan pembangunan di bidang ekonomi demi menciptakan lapangan kerja baru sehinga banyak menyerap tenaga kerja, karena banyak kasus yang terungkap bahwa kekerasan terhadap perempuan dilakukan oleh para pengangguran yang tidak mempunyai aktivitas yang pasti, sehingga mereka sering melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang demi memenuhi kebutuhan, dengan berkurangnya pengangguran maka pasti akan berimbas positif yaitu berkurangnya tindak kekerasan terhadap perempuan

Poin yang terakhir ini lebih menekankan pada pelaku, dimana harus diambil tindakan yang refresif antara lain melalui tehnik rehabilitas, menurut Creessy ada dua konsepsi mengenai konsep rehabilitasi, yang pertama yaitu menciptakan sistem dan program-program yang bertujuan untuk menghukum orang-orang jahat tersebut, sistem serta program-program tersebut bersifat reformatif, misalnya hukuman kurungan dan hukuman penjara. Teknik yang kedua yaitu lebih ditekankan agar pelaku atau penjahat manjadi orang biasa (yang tidak melanggar hukum) dalam hal ini selama dalam manjalani hukuman mereka diberi pelatihan keahlian atau kerajinan supaya mereka setelah keluar bisa menjadi individu yang taat pada peraturan dan tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, dengan berbekal pada keahlian yang didapat mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s