Asfiksia Neonatorum

Standar

A.    DEFINISI

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam 1 menit setelah lahir. (Mansjoer, Arif. 2007 : 502)

Asfiksia Neonatorum Merupakan keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir keadaan tersebut dapat disertai dengan adanya hipoksia, hiperkapnea dan sampai ke asidosis. Keadaan asfiksia ini dapat terjadi karena kurangnya kemampuan fungsi organ bayi seperti pengembangan paru-paru. (Hidayat, A. Aziz Alimul. 2005 : 198)

Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir (Hutchinson, 1967). Keadaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Hipoksia yang terdapat pada penderita asfiksia ini merupakan faktor terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan ekstrauterin (Grabiel Duc, 1971) (Bagian Ilmu Kesehatan Anuk FK UI. 2007 : 1072).

B.     ETIOLOGI

Towell (1966) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi yang terdiri dari :

1. Faktor Ibu

Hipoksia ibu. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu ini dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anestesia dalam.

Gangguan aliran darah uterus. Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan demikian pula ke janin. Hal ini sering ditemukan pada keadaan : (a) gangguan kontraksi uterus, misalnya hipoertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat, (b) hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, (c) hipertensi pada penyakit eklampsia dan lain-lain.

2. Faktor Plasenta

Penularan gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta dan lain-lain.

3. Faktor Fetus

Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan tali pusat menumbung, tali pusat terlihat leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir dan lain-lain.

4. Faktor Neonatus

Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu : (a) pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin, (b) trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarahan intrakranial, (c) kelainan kongenital pada bayi misalnya hernia diafragmatika, atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain. (Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK, UI. 2007 : 1072-1073).

Banyak faktor yang menyebabkannya diantaranya adanya penyakit pada ibu sewaktu hamil seperti ipertensi, paru, gangguan kontraksi persalinan itu juga sangat penting dalam menentukan terjadi asfiksia atau tidak seperti pada partus lama atau partus dengan tindakan tertentu itu dapat menyebabkan terjadinya asfiksia neonatorum. (Hidayat, A.Aziz Alimul. 2005 : 198-199).

Biasanya terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu dengan komplikasi, misalnya diabetes melitus, preeklamsia berat atau eklampsia eritroblastosis fetalis, kelahiran kurang bulan ( < 34 minggu), kelahiran lewat waktu, plasenta, previa, solusio plasentae, korioamnionitis, hidramnion dan oligohidramnion, gawat janin, serta pemberian obat anestesi atau narkotik sebelum kelahiran. (Mansjoer, Arif. 2007 : 502).

C.    KLASIFIKASI

–          Asfiksia ringan (Apgar skor 7-10)

–          Asfiksia sedang (Apgar skor 4-6)

–          Asfiksia berat (Apgar skor 0-3)

(Hidayat, Aziz Alimul, 2005 : 200-201)

D.    TANDA DAN GEJALA

Pengkajian yang didapatkan pada asfiksia neonatorum adalah sebagai berikut adanya pernapasan yang cepat, pernapasan cuping hitung, sianosis, nadi cepat, reflek lemah, warna kulit biru atau pucat, penilaian apgar skor menunjukkan adanya sfiksia seperti asfiksia ringan (7-10), sedang (4-6) dan berat (0-3). (Hidayat, A. Aziz Alimul. 2005 : 199)

Distres pernapasan (apnu atau megap-megap), detak jantung < 100x/mnt, refleks/respons bayi lemah, tonus otot menurun, serta warna kulit biru atau pucat. (Mansjoer, Arif. 2007 : 502).

E.     PERUBAHAN PATOFISIOLOGIS DAN GAMBARAN KLINIS

Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien). Proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang komoreseptor pusat pernafasan agar terjadi ‘primary gasping’ yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan teratur (James, 1958). Sifat asfiksia ini tida mempunyai pengaruh buruk karena reaksi adaptasi bayi dapat mengatasinya.

Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen selama kehamilan/persalinan, akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibel atau tidak bergantung kepada berat dan lamanya asfiksia (Caddeyro-Barcia, 1986).

Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Bila gangguan berlanjut, dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme anaerobik yang berupa glukolisis glikogen tubuh, sehingga sumber glikogen tubuh, terutama pada jantung dan hati akan berkurang. Asam organik yang terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan timbulnya asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya (a) hilangnya sumber glukogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung, (b) terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan, termasuk otot jantung, sehingga menimbulkan kelemahan jantung, (c) pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru, sehingga sirkulasi darah ke paru dan demikian pula ke sistem sirkulasi tubuhlain akan mengalami ganggua. Asidosis dan gangguan kardiovaskular yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakaan sel otak yang terjadi menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.

Pada skema tersebut secara sederhana disimpulkan keadaan-keadaan pada asfiksia yang perlu mendapat perhatian sebaiknya, yaitu : (1) menurunnya tekanan O2 darah (PaO2), (2) meningginya tekanan CO2 darah (PaCO2). (3) menurunnya pH (akibat asidosis respiratorik dan metabolik), (5) terjadinya perubahan tersebut diatas sangat penting, karena hal itu merupakan manifestasi daripada tingkat asfiksia yang terjadi. Tindakan yang dilakukan pada bayi asfiksia hanya akan berhasil dengan baik bila perubahan yang terjadi pada dikoreksi secara adekuat.

Dalam praktek, menentukan tingkat asfiksia bayi dengan tepat membutuhkan pengalaman dan observasi klinis yang cukup. Pada tahun lima puluhan digunakan kriteria ‘breathing time’ dan ‘crying time’ untuk menilai keadaan bayi. Kriteria ini kemudian ditinggalkan, karena tidak dapat memberikan informasi yang tepat pada keadaan tertentu (Apgar, 1966).

Skor apgar biasanya dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap, yaitu pada saat bayi telah diberi lingkungan yang baik serta telah melakukan pengisapan lendir dengan sempurna. Skor apgar 1 menit ini menunjukkan beratnya sfiksia yang diderita dan baik sekali sebagai pedoman untuk menentukan secara resusitasi. Apgar perlu pula dinilai setelah 5 menit bayi lahir, karena hal ini mempunyai korolasi yang erat dengan morbiditas dan mortalitas neonatal (Drage, 1966).

Tabel Skor Apgar

Tanda

0

1

2

Jumlah Nilai

Frekuensi jantung Tidak ada Kurang dari 100/menit Lebih dari 100/menit
Usaha bernafas Tidak ada Lambat, tidak teratur Menangis kuat
Tonus otot Lumpuh Ekstreimat fleksi sedikit Gerakan aktif
Refleks Tidak ada Gerakan sedikit Menangis
Warna Biru/pucat Tubuh kemerahan, ekstremitas biru Tubuh dan ekstremitas kemerahan

 

Dalam menghadapi bayi dengan asfiksia berat, penilaian cara ini kadang-kadang membuang waktu dan dalam hal ini dianjurkan untuk menilai secara cepat (Pediatric’s Staff, Roy. Wom. Hosp. Aust, 1967). (1) menghitung frekuensi jantung dengan cara meraba xifistemum atau a. Umbilkalis dan menentukan apakah jumlahnya lebih atau kurang dari 100/menit (2) menilai tonus otot apakah baik/buruk, (3) melihat warna kulit

Atas dasar pengalaman klinis diatas, asfiksia neonatorum dapat dibagi dalam :

  1. ‘Vigorous baby’. Skor Apgar -7-10. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
  2. ‘Mild-moderate asphyxia’ (asfiksia sedang). Skor Apgar 4-6/. Pada pemerksaan fisis akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refleks iritabilitas tidak ada.
  3. (a) Asfiksia berat. Skor apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisis ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, refleks iritabilitas tidak ada.

(b) Asfiksia berat dengan henti jantung. Dimaksudkan dengan henti jantung ialah keadaan (1) bunyi jantung fetus jantung bayi menghilang post partum. Dalam hal ini pemeriksaan fisis lainnya sesuai dengan yang ditemukan pada penderita asfiksia berat.

(Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. 2007 : 1073-1077)

F.     PENATALAKSANAAN

Cara resusitasi

Terbagi atas tindakan umum dan tindakan khusus.

Tindakan Umum

1. Pengawasan suhu

Bayi baru lahir secara relatif banyak kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu tubuh (Miller dan Oliver, 1966). Hal ini akan mempersulit keadaan bayi, apabila bayi menderita asfiksia berat. Pemakaian sinar lampu yang cukup kuat untuk pemanasan luar dapat dianjurkan dan pengeringan tubuh bayi perlu dikerjakan untuk mengurangi evaporasi.

2. Pembersihan jalan nafas

Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan amnion. Perlu diperhatikan pula saat ini bahwa letak kepala harus lebih rendah untuk memudahkan dan melancarkan keluarnya lendir. Bila terhadap lendir kental yang melekat di trakea dan sulit dikeluarkan dengan pengisapan biasa, dapat digunakan laringoskop neonatal sehingga pengisapan dapat dilakukan dengan melihat semak-simalnya, terutama pada bayi dengan kemungkinan infeksi. Pengisapan yang dilakukan dengan ceroboh akan menimbulkan penyakit seperti spasme laring, kolaps paru atau kerusakan sel mukosa jalan nafas.

3. Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan.

Bayi yang tidak memperhatikan usaha bernafas 20 detik setelah lahir dianggap sedikit banyak telah menderita depresi pusat pernafasan (Hall, 1969). Pada sebagian besar bayi pengisapan lendir dan cairan amnionyang dilakukan melalui nasofaring akan segera menimbulkan rangsangan pernafasan. Pengaliran O2 yang cepat ke dalam mukosa hidung dapat dan faring. Bila tindakan ini tidak berhasil beberapa cara stimulasi lain perlu dikerjakan. Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua telakap kaki bayi, menekan tendon Achilles atau memberikan suntikan vitamin K terhadap bayi tertentu. hindarilah pemukulan di daerah bokong atau punggung bayi untuk mencegah timbulnya perdarahan alat dalam (James dan Apgar, 1966). Bila tindakan tersebut tidak berhasil, cara lain pun tidak akan memberikan hasil yang diharapkan. Dalam hal ini tindakan utama ialah memperbaiki ventilasi. Perlu dikemukakan bahwa melakukan kompresi dinding toraks untuk menimbulkan tekanan negatif dalam rongga dada tidak akan bermanfaat pada paru bayi yang belum berkembang. Tindakan ini mungkin akan menimbulkan kerusakan parunya sendiri atau perdarahan hati.

(Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. 2007 : 1077-1079).

Asfiksia Ringan APGAR Skor (7-10)

Cara mengatasinya adalah sebagai berikut :

  1. Bayi dibungkus dengan kain hangat
  2. Bersihkan jalan nafas dengan mengisap lendir pada hidung kemudian mulut.
  3. Bersihkan badan dan tali pusat
  4. Lakukan obervasi tanda vital, pantau APGAR skor, dan masukkan ke dalam inkubator.

(Hidayat, A.Aziz Alimul, 2008 : 128)

Tindakan Khusus

Tindakan umum yang dibicarakan di atas dilakukan pada setiap bayi baru lahir. Bila tindakan ini tidak memperoleh hasil yang memuaskan, barulah dilakukan tindakan khusus. Cara yang dikerjakan disesuaikan dengan beratnya asfiksia yang timbul pada bayi yang dimanifestasikan oleh tinggi rendahnya skor Apgar.

(Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. 2007 : 1079)

Pada neonatus dengan asfiksia, resusitasi diberikan secepat mungkin tanpa menunggu penghitungan skor Apgar. Langkah resusitasi mengikuti ABC. A, pertahankan jalan nafas bebas, jika perlu dengan intubasi endotrakeal, B, bangkitkan nafas spontan dengan stimulasi taktil atau tekanan positif menggunakan bag and mask atau lewat pipa endotrakeal; C. Pertahankan sirkulasi jika perlu dengan kompresi dada dan obat-obatannya.

(Mansjoer, Arif. 2007 : 502)

Asfiksia sedang (skor Apgar 4-6)

Dalam hal ini dapat dicoba melakukan stimulasi agar timbul refleks pernafasan. Bila dalam waktu 30-60 detik tidak timbul pernafasan spontan, ventilasi aktif harus segera dimulai. Ventilasi aktif yang sederhana dapat dilakukan secara ‘frog breathing’. Cara ini dikerjakan dengan meletakkan kateter O2 intranasal dan O2 dialirkan dengan aliran 1-2 1/menit. Secara ritmis dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut, disertai gerakan dagu keatas dan ke bawah dalam frekuensi 20 kali menit. Tindakan ini dilakukan dengan memperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernafasan spontan, usahakanlah mengikuti gerakan tersebut. Ventilasi ini dihentikan bila setelah 1-2 menit tidak dicapai hasil yang diharapkan. Dalam hal ini segera dilakukan ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung.

Ventilasi ini dapat dikerjakan dengan 2 cara, yiatu ventilasi mulut ke mulut atau ventilasi kantong ke masker. Sebelum ventilasi dikerjakna, ke dalam mulut bayi dimasukkan ‘plastic pharyngeal airway’ yang berfungsi mendorong pangkal lidah ke depan agar jalan nafas tetap berada dalam keadaan bebas. Pada ventilasi mulut ke mulut, sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2 sebelum melakukan peniupan. Ventilasi dilakukan secara teratur dengan frekuensi 20-30 kali/menit dan diperhatikan gerakan pernafasan spontan yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhasil bila setelah dilakukan beberapa saat terjadi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot. Intubasi endotrakeal harus segera dikerjakan dan bayi diperlakukan sebagai penderita asfiksia berat.

Bikarbonas natrikus dan glukosa dapat diberikan pada bayi, apabila 3 menit setelah lahir tidak memperhatikan pernafasan teratur, walaupun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat. Cara dna dosis obat yang diberikan sesuai dengan cara yang dilakukan terhadap penderita asfiksia berat.

(Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. 2007 : 109).

Berikan bantuan nafas dengan osigen 100% melalui bag and mask selama 15-30 detik. Bila dalam waktu 30 detik denyut nadi masih dibawah 80x/mnt. Lakukan kompresi dada dengan dua jari pada 1/3 bawah sternum sebanyak 120x/mnt.

Intubasi endotrakeal harus dilakukan oleh tenaga terlatih pada bayi yang tidak memberi respons terhadap bantuan nafas dengan bag and mask atau pada bayi dengan asfiksia berat.

Tetapi medikamentosa diberikan bila denyut nadi masih dibawah 80x/mnt setelah 30 detik kombinasi bantuan nafas dan kompresi dada atau dalam keadaan asistol. Berikan adrenalin 1:10.000 dosis 0,1-0,3 ml/kgBB intravena/intratakeal, dapat diulangi tiap 3-5 menit. Pada respons yang buruk terhadap resusitasi, hipovolemia, hipotensi, dan riwayat perdarahan berkan 10 ml/kkBB cairan infus (NaCl 0,9%, Ringer laktat, atau darah). Jika hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan asidosis metabolik. Berikan natrium bikarbonat 2 mEq/kgBB perlahan-lahan. Natrium bikarbonat diberikan hanya setelah terjadi ventilasi yang efektif karena dapat meningkatkan CO2 darah sehingga timbul asidosis respiratorik.

(Mansjoer, Arif. 2007 : 502-503).

Asfiksia Sedang APGAR Skor (4-6)

Cara mengatasinya adalah sebagai berikut :

  1. Bersihkan jalan nafas
  2. Berikan oksigen 2 liter per menit
  3. Rangsang pernafasan dengan menepuk telapak kaki. Apabila belum ada reaksi, bantu pernafasan dengan masker (ambubag)
  4. Bila bayi sudah mulai bernafas tetapi masih sianosis, berikan natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6 cc. Dekstrosa 40% sebanyak 4 cc disuntikkan melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan untuk mencegah tekanan intrakranial meningkat.

(Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008 : 128)

Asfiksia Berat (skor Apgar 0-3)

Resusitasi aktif dalam hal ini harus segera dikerjakan. Langkah utama ialah memperbaiki ventilasi paru dengan memberikan O2 dengan tekanan dan intermiten. Cara yang terbaik ialah dengan melakukan intubasi endotrakeal. Setelah kateter diletakkan dalam trakea, O2 diberikan dengan tekanan tidak lebih dari 30 cm H2O. Hal ini untuk mencegah kemungkinan terjadinya inflasi paru berlebihan sehingga dapat terjadi ruptur alveoli. Tekanan positif ini dilakukan dengan meniupkan udara yang mengandu O2 tinggi ke dalam kateter secara mulut ke pipa atau ventilasi kantong ke pipa. Bila diragukan akan timbulnya infeksi, terhadap bayi yang mendapat tindakan ini dapat diberikan antibiotika profilaksis. Keadaan asfiksia berat ini hampir selalu disertai asidosis yang membutuhkan koreksi segera, karena itu bikarbonas natrikus diberikan 2-4 mEq/kgbb (dibagian IKA FKUI,RSCM Jakarta digunakan larutan bikarbonas natrikus 7,5% dengan dosis 2-4 ml/kgbb. Kedua obat ini disuntikkan secara intravena dengan perlahan-lahan melalui vena umbilikalis. Perlu diperhatikan bahwa reaksi optimal obat-obatan ini akan tampak jelas apabila pertukaran gas (ventilasi) paru sedikit banyak telah berlangsung.

Usaha pernafasan (gasping) biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali. Bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernafasan atau frekuensi jantung, masase jantung eksternal harus segera dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. Tindakan ini dilakukan dengan diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3, yaitu setiap 1 kali ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks. Bila tindakan ini dilakukan bersamaan mungkin akan terjadi komplikasi berupa pneumotoraks atau pneumomediastinum. Bila tindakan ini tidak memberikan hasil yang diharapkan, bayi harus dinilai kembali, yaitu karena hal ini mungkin disebabkan oleh gangguan keseimbangan asam-basa yang belum dikoreksi dengan baik atau adanya kemungkinan gangguan organik seperti hernia diafragmatika, atresia atau stenosis jalan nafas dan lain-lain.

Asfiksia berat dengan disertai henti jantung.

Tindakan yang dilakukan sesuai dengan penderita asfiksia berat, hanya dalam hal ini disamping pemasangan pipa endotrakeal, segera pula dilakukan masase jantung ekternal.

(Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK. UI. 2007. 1080)

Asfiksia berat dapat mencetuskan syok kardiogenik. Pada keadaan ini berikan dopamin atau dobutamin per infus 5-20 ug/kgDB/menit setelah sebelumnya diberikan volume expander. Adrenalin 0,1 ug/kgBB/menit dapat diberikan pada bayi yang tidak responsif terhadap dopamin atau dobutamin.

Bila terhadap riwayat pemberian analgesik narkotik pada ibu saat hamil, berikan Narcae (nalokson) 0,1 mg/kgBBsubuktan/ intramuskular/ intravena/ melalui pipa endotrakeal.

(Mansjoer, Arif. 2007 : 503).

 

Asfiksia Berat APGAR skor (0-3)

Cara mengatasinya adalah sebagai berikut :

  1. Bersihkan jalan nafas sambil pompa melalui ambubag.
  2. Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
  3. Bila tidak berhasil, lakukan pemasangan FTT (endotracheal tube)
  4. Bersihkan jalan nafas melalui ETT
  5. Apabila bayi sudah mulai bernafas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5 sebanyak 6 cc. Selanjutnya berikan dekstrosa 40% sebanyak 4cc.

(Hidayat, A.Aziz Alimul. 2008 : 128-129)

Tindakan lain dalam resusitasi

1. Pengisapan cairan lambung

Tindakan ini dilakukan pada bayi tertentu, yaitu untuk menghindarkan adanya regurgitasi dan aspirasi. Sebaiknya pengisapan ini dilakukan pada bayi yang sebelumnya menderita gawat janin, prematuritas, bayi ibu penderita diabetes melitus dan pada bayi yang waktu persalinan dipengaruhi secara tidak langsung oleh obat.

Manfaat lain yang dapat diperoleh dari pengisapan cairan lambung ialah : (a) mengenal secara dini adanya atresia/stenosia esofagus, (b) bila ditemukan cairan lambung yang berlebihan (lebih dari 30ml), ingatlah kemungkinan akan obstruksi usus letak tinggi, (c) bila ditemukan jumlah sel darah putih yang tinggi pada sediaan langsung cairan lambung, bayi sudah hampir pasti telah kontak dengan infeksi cairan amnion (amnionitis). Pengisapan cairan lambung mungkin pula menimbulkan efek yang kurang baik, seperti bradikardia atau serangan apnu, spasme laring. Karena itu tindakan ini dikerjakan bila keadaan bayi telah mengijinkan.

2. Penggunaan obat

Obat analeptik seperti koramin, lobelin, vandid dan lain-lain, sekarang sudah tidak dianjurkan lagi untuk digunakan, sedangkan pada penderita asfiksia berat, obat tersebut merupakan indikasi kontra. Beberapa obat narkotika dan analgetika yang diberikan pada ibu 2-4 jam sebelum bayi lahir, dapat menimbulkan depresi pernafasan pada bayi saat lahir. Obat tersebut misalnya morfin, heroin, petidin. Pada keadaan ini dianjurkan memberikan antidotumnya berupa nalorpin dengan dosis 0,2 mg/kgbb dan diberikan secara intravena atau intramuskulus dalam.

3. Profilaksis terhadap blenorea

Tindakan ini harus tetap dilakukan dengan memberikan nitras argenti 1%. Setelah pemberian, mata dibilas dengan garam fisiologis untuk mengurangi bahaya iritasi.

4. Faktor aseptik dan antisetik

Pada setiap tindakan yang dilakukan pada bayi baru lahir, harus selalu diperhatikan faktor aseptik dan antiseptik. Bila sterilitas tindakan diragukan, segera diberikan antibiotika profilaksis.

5. Berikan klinik menganjurkan cara lain dalam mengatasi bayi dengan asfiksia berat. Cara tersebut ialah :

Hipotermia. Asfiksia berat dapat diatasi dengan hipotermia yang dalam, yaitu untuk mengurangi/membatasi kerusakan sel jaringan (terutama otak). Tindakan ini dianggap bermanfaat karena dapat mengurangi kebutuhan sel jaringana akan oksigen. Sikap ini belum banyak dianut, karena manfaatnya tidak pasti.

Oksigen hiperbarik. Cara ini dianut oleh beberapa klinik di Inggris. Bayi diletakkan dalam ruangan tertutup yang berisi oksigen dengan tekanan atmosfir yang tinggi. Cara ini dianggap memperlihatkan hasil yang sama dengan ventilasi tekanan positif. Di samping itu beberapa sarjana menganggap bahwa tindakan ini tidak berfaedah. (James. 1966)

(Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007 : 1080-1081).

G.    KOMPLIKASI

Edema otak, perdarahan otak, anuria atau oliguria, hiperbilirubinemia, enterokolitis nekronikans, kejang, koma. Tindakan bag and mask berlebihan dapat menyebabkan pneumotoraks.

H.    PROGNOSIS

  1. Asfiksia ringan (Apgar skor 4-6) tergantung pada kecepatan penatalaksanaan.
  2. Asfiksia berat dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama atau kelainan saraf, Asfiksia dengan pH 6,9 dapat menyebabkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis permanen, misalnya serebral palsi atau retardasi mental. (Mansjoer, Arif. 2007 : 503)


DAFTAR PUSTAKA

 

Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007, Buku Kuliah 3 IKA. Jakarta : Infomedika

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.

Mansjoer, Arif. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Medika Aeseulupius

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta : Salemba Medika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s