Model-Model Pembelajaran

Standar

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang dipakai sebagai panduan untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Syarat pemilihan model pembelajaran antara lain: materi yang diberikan, jumlah dan karakteristik mahasiswa, kemampuan dosen, dan waktu pembelajaran. Macam-macam model pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Contextual Teaching and Learning (CTL), menurut Jonhson CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka. Beberapa strategi pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara konstektual antara lain: Pembelajaran berbasis masalah, Menggunakan konteks yang beragam, Mempertimbangkan kebhinekaan siswa, Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, Belajar melalui kolaborasi, Menggunakan penelitian autentik, Mengejar standar tinggi
  2. Collaborative Learning, adalah metode belajar yang menitikberatkan pada kerjasama antar mahasiswa yang didasarkan pada consensus yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok. Masalah/tugas/kasus memang berasal dari dosen dan bersifat open ended, tetapi pembentukan kelompok yang didasarkan pada minat, prosedur kerja kelompok, penentuan waktu dan tempat diskusi/kerja kelompok, sampai dengan bagaimana hasil diskusi/kerja kelompok ingin dinilai oleh dosen, semuanya ditentukan melalui consensus bersama antar anggota kelompok.
  3. Problem Solving, Discovery-inquiry. Model Pembelajaran Problem Solving atau Metode Pembelajaran Pemecahan Masalah adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Menurut Roestiyah (2002: 20) ”Discovery learning ialah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melaui tukar pendapat,  dengan diskusi, membaca sendiri, dan mencoba sendiri agar anak belajar sendiri”.  Pembelajaran discovery-inquiry merupakan pembelajaran yang menitik beratkan pada proses pemecahan masalah, sehingga siswa harus melakukan eksplorasi berbagai informasi agar dapat menentukan konsep mentalnya sendiri dengan mengikuti petunjuk guru berupa pertanyaan yang mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran.
  4. Problem Based Learning, merupakan suatu model pengajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik. Masalah autentik dapat diartikan sebagai suatu masalah yang sering ditemukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan PBL siswa dilatih menyusun sendiri pengetahuannya, mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, mandiri serta meningkatkan kepercayaan diri. Selain itu, dengan pemberian masalah autentik, siswa dapat membentuk makna dari bahan pelajaran melalui proses belajar dan menyimpannya dalam ingatan sehingga sewaktu-waktu dapat digunakan lagi (Nurhadi dalam Rusmiyati, 2007: 12).
  5. Experiential Learning, menggambarkan dua dialektika terkait cara penyerapan pengalaman -Concrete Experience (CE) and Abstract Conceptualization (AC)- dan dua dialektika terkait transformasi pengalaman Reflective Observation (RO) and Active Experimentation (AE). Belajar merupakan proses yang mengintegrasikan pengalaman dengan konsep, pengamatan, dan tindakan. Impulse (dorongan pengalaman) melahirkan pengetahuan (knowledge) untuk bertindak (judgement). Penundaan tindakan sangat penting untuk melakukan observasi (pengamatan) dan penilaian dalam pencapaian tujuan.
  6. Quantum Learning, adalah pengajaran yang dapat mengubah suasana belajar yang menyenangkan serta mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
  7. Resource Based Learning, adalah segala bentuk belajar yang langsung menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara individual atau kelompok dengan segala kegiatan belajar yang bertalian dengan itu. Peran guru dalam resource based learning bukan merupakan   sumber  belajar satu-satunya. Murid dapat belajar dalam kelas,  dalam    laboratorium,   dalam    ruang      perpustakaan,   dalam   ruang sumber belajar yang khusus bahkan diluar sekolah, bila ia mempelajari lingkungan berhubungan dengan tugas atau masalah tertentu.
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s